Dubes Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Hanya Berlakukan Protokol Khusus

- Kamis, 05 Maret 2026 | 22:50 WIB
Dubes Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Hanya Berlakukan Protokol Khusus

PARADAPOS.COM - Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk lalu lintas pelayaran. Pernyataan ini disampaikan di tengah ketegangan kawasan pasca serangan militer terhadap Iran, yang memicu kekhawatiran global terhadap keamanan jalur distribusi energi vital dunia tersebut. Dubes Boroujerdi menyebut Iran hanya menerapkan protokol keamanan khusus, bukan menutup selat.

Klaim Iran Soal Keamanan Selat Hormuz

Dalam pertemuan dengan awak media di kediamannya di Jakarta, Kamis (5/3/2026), Mohammad Boroujerdi secara tegas membantah isu penutupan Selat Hormuz. Ia menekankan peran Iran sebagai penjaga keamanan di jalur air strategis itu, sebuah peran yang diklaim telah berlangsung lama.

“Selat Hormuz tidak ditutup, Selat Hormuz tetap terbuka, dan kami hanya sebagai pihak yang menyelenggarakan keamanan,” tuturnya.

Dubes Boroujerdi menjelaskan bahwa kebijakan yang berlaku adalah protokol lalu lintas khusus untuk situasi perang. Menurutnya, kepatuhan terhadap aturan ini menjadi kunci kelancaran.

“Di selat ini hanya diberlakukan protokol lalu lintas yang khusus untuk saat-saat perang. Pihak-pihak yang mematuhi protokol tersebut bisa dengan mudah melewati Selat Hormuz,” jelasnya.

Kritik terhadap Amerika Serikat dan Prinsip Keamanan

Lebih lanjut, diplomat Iran itu menegaskan komitmen negaranya untuk menjaga stabilitas di selat yang menjadi urat nadi perdagangan minyak global. Ia menyebut prinsip keamanan harus berlaku setara untuk semua negara.

“Selat Hormuz adalah tempat di mana Iran menyebarluaskan keamanan sejak ratusan tahun yang lalu,” ujarnya.

Namun, Boroujerdi juga tidak segan menuding pihak lain sebagai sumber ketegangan. Sorotan dialihkannya ke kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan, yang dianggapnya justru mengganggu stabilitas.

“Yang khawatir berkaitan dengan penutupan Selat Hormuz harus menanyakan kepada Amerika Serikat yang datang dari jauh ke kawasan Timur Tengah dan kemudian mengganggu keamanan di Selat Hormuz,” lanjutnya.

Latar Belakang Ketegangan Militer

Pernyataan Dubes Iran ini tidak bisa dilepaskan dari konteks militer yang memanas. Ketegangan memuncak setelah operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari 2026. Serangan yang dilaporkan menewaskan sejumlah tokoh penting, termasuk Ayatollah Ali Khamenei, itu langsung dibalas dengan serangan Iran ke Israel dan kawasan Teluk.

Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memang menyatakan kemungkinan penutupan Selat Hormuz sebagai bentuk pembalasan. Situasi inilah yang memicu gelombang kecemasan di pasar energi internasional, mengingat betapa krusialnya jalur ini bagi suplai minyak dunia.

Dampak Langsung pada Indonesia

Gelombang ketegangan itu ternyata berdampak langsung pada kepentingan nasional Indonesia. Dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) dilaporkan tertahan di kawasan Teluk Persia. Kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro terpaksa berlabuh di lokasi yang dianggap lebih aman menunggu situasi mereda.

Merespons hal ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa pemerintah sedang berupaya melakukan negosiasi. Tujuannya jelas: memastikan keselamatan awak kapal dan kargo, serta mengamankan perjalanan kedua kapal tersebut untuk segera bisa melanjutkan pelayaran pulang.

“Ada dua kapal kargo Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz. Kapal-kapal tersebut saat ini berlabuh di lokasi yang lebih aman sambil menunggu proses negosiasi,” kata Bahlil seperti dikutip Antara, Rabu (4/3/2026) malam.

Insiden ini menyiratkan betapa rapuhnya rantai pasok energi global terhadap gejolak geopolitik di titik-titik choke point seperti Selat Hormuz, sekaligus menjadi ujian diplomasi bagi Indonesia di tengah konflik yang melibatkan banyak kekuatan besar.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar