Harga Pangan Pokok Tetap Stabil Jelang Lebaran 2026

- Minggu, 08 Maret 2026 | 01:50 WIB
Harga Pangan Pokok Tetap Stabil Jelang Lebaran 2026

PARADAPOS.COM - Harga sejumlah komoditas pangan pokok, seperti telur ayam, minyak goreng, dan beras, dilaporkan masih stabil memasuki awal Maret 2026 meski aktivitas mudik Lebaran mulai meningkat. Kondisi ini berbeda dengan tren kenaikan harga yang kerap terjadi jelang Idul Fitri. Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, menyebut distribusi yang lancar dan pasokan yang aman menjadi kunci utama menjaga stabilitas harga di daerah.

Stabilitas Harga Jelang Lebaran 2026

Pantauan di lapangan menunjukkan situasi yang relatif kondusif. Harga telur ayam, misalnya, masih bertahan di kisaran Rp29.000 per kilogram. Angka ini terpantau lebih rendah dibandingkan harga pada periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya, yang kerap melonjak tajam mendekati hari raya.

Bambang Haryo Soekartono mengonfirmasi temuan ini berdasarkan peninjauannya di Surabaya. Ia menyoroti bahwa efisiensi dalam rantai pasok telah berhasil meminimalisir gangguan logistik yang biasanya memicu inflasi musiman.

"Biasanya mendekati Lebaran harga telur bisa menyentuh Rp35.000, namun pantauan kami di lapangan saat ini masih di angka Rp29.000," tuturnya.

Distribusi Lancar Jadi Kunci Kendali Inflasi

Stabilitas harga yang terjadi tidak datang dengan sendirinya. Keberhasilan menjaga level harga beberapa komoditas krusial ini menjadi indikator bahwa jalur distribusi dari produsen hingga ke pengecer dan konsumen berjalan secara optimal. Terjaganya harga di tingkat ritel, bahkan hingga ke pelosok pemukiman, membuktikan bahwa pasokan tersalurkan dengan baik tanpa hambatan berarti.

Hal ini menjadi catatan penting, mengingat di masa-masa sebelumnya, kemacetan distribusi sering menjadi pemicu utama ketidakstabilan harga, terutama ketika permintaan melonjak drastis.

Mudik Sebagai Penggerak Ekonomi Daerah

Di sisi lain, gelombang mudik tahun ini justru dipandang sebagai momentum positif untuk pemerataan ekonomi. Arus balik masyarakat ke daerah asal diperkirakan akan mendorong perputaran uang di wilayah kecil dan menengah melalui belanja konsumsi serta pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.

Legislator asal Jawa Timur itu melihat fenomena tahunan ini bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah mekanisme alami pendistribusian kekayaan.

"Musim mudik bukan sekadar tradisi, melainkan momentum pergeseran roda ekonomi ke daerah-daerah. Transaksi yang dilakukan pemudik akan langsung menyentuh pelaku usaha warga setempat," jelas Bambang.

Pentingnya Pengawasan Berkelanjutan

Meski sinyal saat ini menunjukkan tren yang positif, kewaspadaan tetap diperlukan. Pemerintah didorong untuk tidak lengah dalam mengawasi pergerakan harga 11 komoditas pangan pokok yang diatur dalam kebijakan perdagangan. Pengawasan yang konsisten di tingkat lapangan, hingga ke pasar tradisional, menjadi syarat mutlak untuk mempertahankan daya beli masyarakat hingga hari raya tiba.

Di akhir pernyataannya, Bambang Haryo Soekartono menekankan pentingnya menjaga ketersediaan stok untuk mencegah kelangkaan mendadak yang berpotensi memicu spekulasi dan gejolak harga di pasaran.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar