Falsafah Waja Sampai Kaputing dari Banjar Digali untuk Perkuat Karakter Generasi Muda

- Senin, 09 Maret 2026 | 14:50 WIB
Falsafah Waja Sampai Kaputing dari Banjar Digali untuk Perkuat Karakter Generasi Muda

PARADAPOS.COM - Dalam menghadapi kompleksitas tantangan global, falsafah hidup lokal kembali digali sebagai sumber ketangguhan mental. Salah satunya adalah prinsip "dalas hangit, haram menyarah, waja sampai kaputing" dari kearifan suku Banjar, Kalimantan Selatan. Prinsip yang menekankan keteguhan hati dan pantang menyerah ini dinilai relevan untuk memperkuat karakter, terutama bagi generasi muda Indonesia di tengah dinamika zaman.

Makna Filosofis dari Semangat Pangeran Antasari

Gubernur Kalimantan Selatan, Muhyiddin, memaparkan makna mendalam di balik ungkapan tersebut. Frasa itu menggambarkan tekad yang tak tergoyahkan, sekeras baja dari ujung ke ujung, sekalipun harus menghadapi situasi yang membakar. Ia menekankan bahwa nilai-nilai ini bukan sekadar pepatah, melainkan warisan semangat perjuangan yang hidup.

"Ungkapan ini lahir dari semangat Pangeran Antasari yang mengajarkan tekad kuat, niat lurus, dan keberanian melangkah meski dalam keadaan sulit," jelasnya.

Konvergensi Nilai Spiritual dan Universal

Relevansi prinsip "waja sampai kaputing" ternyata beresonansi dengan nilai-nilai yang lebih luas. Tokoh masyarakat Din Syamsuddin melihat keselarasan yang erat dengan ajaran Islam, yang melarang umatnya berputus asa. Menyelesaikan tugas dengan integritas dan hasil terbaik, menurutnya, merupakan cerminan keimanan.

Pandangan serupa datang dari ranah yang berbeda. Pelatih basket profesional Jamar Johnson, melalui pengalaman lapangannya, menyampaikan perspektif yang senada. Ia menegaskan bahwa proses menghadapi dan mengatasi rintangan justru merupakan jalan inti menuju pencapaian.

Menerjemahkan Semangat ke dalam Langkah Nyata

Lantas, bagaimana cara menginternalisasi falsafah ini dalam kehidupan sehari-hari? Pakar pengembangan karakter menyarankan dimulai dari pembentukan niat yang kokoh dan tulus. Niat ini kemudian perlu dijabarkan menjadi peta jalan atau strategi yang jelas dan realistis. Tahap terpenting dan paling menentukan adalah eksekusi: melakukan aksi nyata secara konsisten, langkah demi langkah, meski menemui kesulitan.

Pada akhirnya, semangat "Waja Sampai Kaputing" lebih dari sekadar motivasi; ia adalah tantangan untuk bertransformasi. Prinsip ini mengajak setiap individu untuk tidak berpuas diri dengan sekadar "cukup baik", tetapi terus berjuang memberikan yang terbaik dan menyelesaikan apa yang telah dimulai dengan ketekunan dan keberanian.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar