PARADAPOS.COM - Konflik militer Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memicu perdebatan sengit di dalam negeri AS terkait besaran biaya yang harus ditanggung pemerintah. Angka yang beredar di kalangan legislatif bervariasi, mulai dari 1 hingga 2 miliar dolar AS per hari, sebuah beban fiskal yang dipertanyakan di tengah isu domestik yang mendesak. Tekanan politik pun meningkat, mendorong permintaan resmi untuk analisis biaya menyeluruh dari lembaga pengawas anggaran Kongres.
Kekhawatiran di Capitol Hill dan Kritik Tajam
Laporan mengenai besarnya pengeluaran militer AS untuk perang ini pertama kali mencuat dari sumber internal di Kongres. Dua sumber yang berbicara kepada penyiar MSNBC menyebut angka sekitar 1 miliar dolar AS per hari. Tidak lama setelahnya, media Politico melaporkan kekhawatiran pribadi sejumlah anggota Partai Republik bahwa Pentagon mungkin menghabiskan hampir dua kali lipat dari angka tersebut.
Kritik terbuka dilancarkan oleh pimpinan minoritas DPR, Hakeem Jeffries. Dalam sebuah konferensi pers di Capitol Hill pekan lalu, ia secara tegas menyoroti arah kebijakan pemerintahan saat ini.
Presiden Donald Trump sedang "menjerumuskan Amerika ke dalam konflik tanpa akhir di Timur Tengah" dan "menghabiskan miliaran dolar untuk membombardir Iran," ujarnya.
Jeffries kemudian mempertanyakan alokasi anggaran yang dinilainya timpang. Ia menegaskan bahwa dana miliaran dolar untuk perang justru tidak diikuti oleh komitmen serupa untuk masalah dalam negeri.
"Namun mereka tidak bisa menemukan satu sen pun untuk membuat layanan kesehatan lebih terjangkau bagi rakyat Amerika ketika mereka membutuhkan dokter," lanjutnya, seperti dilansir Al Jazeera.
"Tidak ada dana untuk membantu warga Amerika yang bekerja keras membeli rumah pertama mereka, dan tidak ada dana untuk menurunkan harga kebutuhan pokok," tegas Jeffries.
Dukungan Publik yang Merosot dan Dampak Politik
Kekhawatiran tentang biaya perang ini muncul di saat yang kurang tepat bagi Presiden Trump. Terpilih kembali pada 2024 dengan janji menekan biaya hidup, popularitasnya justru menunjukkan tren penurunan. Sebuah survei Reuters/Ipsos yang dilakukan tak lama setelah serangan ke Iran pada 28 Februari turut mengonfirmasi rendahnya dukungan publik terhadap keterlibatan militer ini.
Sementara Pentagon belum mengeluarkan perkiraan biaya resmi, banyak analis berpendapat bahwa angka yang membengkak akan sulit diterima oleh pemilih, terlebih dengan pemilu paruh waktu yang tinggal beberapa bulan lagi. Situasi ini menciptakan tekanan politik yang nyata bagi para pembuat kebijakan di Washington.
Upaya Mendapatkan Gambaran Biaya yang Jelas
Untuk mengatasi ketidakpastian ini, anggota DPR dari Partai Demokrat, Brendan Boyle, mengambil langkah formal. Sebagai anggota senior Komite Anggaran DPR, Boyle mengirim surat resmi pada 5 Maret kepada Kantor Anggaran Kongres (CBO) meminta analisis komprehensif mengenai biaya sebenarnya dari konflik dengan Iran.
Dalam suratnya, Boyle meminta CBO mengkaji biaya operasional, logistik, dan dukungan perang, termasuk biaya langsung dan tidak langsung dari penggunaan kekuatan militer. Ia juga meminta estimasi biaya tambahan seperti operasi diplomatik dan bantuan luar negeri yang terkait.
Yang menarik, Boyle meminta analisis mencakup biaya peluang. Salah satu poin spesifiknya adalah menilai dampak terhadap kemampuan AS merespons potensi agresi China di Taiwan jika aset strategis seperti kapal induk harus dialihkan ke kawasan Iran.
Kajian yang diminta juga harus menganalisis dampak perang terhadap harga-harga domestik. Boyle menginginkan analisis ini dibuat dalam beberapa skenario, termasuk jika perang berlarut-larut melebihi empat hingga lima pekan atau bahkan jika AS memutuskan untuk mengerahkan pasukan darat ke wilayah Iran. Permintaan ini mencerminkan keinginan untuk memahami konsekuensi jangka panjang dan berbagai kemungkinan dari komitmen militer yang sedang berlangsung.
Artikel Terkait
Harga Emas Batangan di Pegadaian Naik, Galeri24 dan UBS Tembus Rp3 Juta per Gram
Suami Siri Ditangkap Usai Mayat Istri Ditemukan Tinggal Tulang di Depok
Prabowo Bantu Quraish Shihab Turun Panggung, Ulama Panjatkan Doa Khusus untuk Presiden
Xpeng Indonesia Buka Dealer 3S Baru di Pluit, Dukung Ekspansi Pasar