Presiden Prabowo Ingatkan Dampak Krisis Global ke Ekonomi Domestik

- Rabu, 11 Maret 2026 | 12:50 WIB
Presiden Prabowo Ingatkan Dampak Krisis Global ke Ekonomi Domestik

PARADAPOS.COM - Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara terbuka mengingatkan seluruh masyarakat untuk bersiap menghadapi dampak krisis ekonomi global yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Peringatan itu disampaikan pada Senin, 9 Maret 2026, saat meresmikan sejumlah jembatan. Konflik terbuka antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah mendorong harga minyak mentah dunia melampaui level psikologis USD 100 per barel dan melemahkan nilai tukar Rupiah, menciptakan tekanan inflasi yang berpotensi langsung dirasakan masyarakat.

Peringatan Langsung dari Istana

Dalam pidatonya yang disampaikan secara daring, Presiden Prabowo Subianto tidak menutup-nutupi tantangan berat yang dihadapi. Ia menggambarkan situasi global yang sedang mengalami goncangan hebat akibat perang, yang konsekuensinya akan sampai ke dalam negeri. Pernyataan ini menegaskan bahwa dampak konflik yang terjadi ribuan kilometer jauhnya bukan lagi sekadar isu geopolitik, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi domestik.

"Saudara-saudara, seluruh dunia sedang mengalami goncangan, seluruh dunia. Akibat perang di Timur Tengah kita terus terang saja harus siap menghadapi kesulitan," tegas Prabowo.

Dampak Nyata: Dari Minyak Global ke Kantong Rakyat

Guncangan di pasar energi global menjadi episentrum krisis. Gangguan di Selat Hormuz—jalur vital bagi lebih dari 20% pasokan minyak dunia—telah memicu lonjakan harga yang tajam. Ekonom INDEF, Hakam Naja, menyebut situasi ini bagai "kiamat kecil" bagi suplai energi global. Lonjakan ini berimbas langsung pada postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yang asumsi harga minyaknya jauh lebih rendah.

Analisis Hakam memperlihatkan betapa rentannya fiskal negara terhadap fluktuasi ini. "Kenaikan $1 per barel minyak akan menaikkan defisit sebesar Rp6,8 triliun. Kenaikan harga minyak pada angka mendekati $100 per barel ini bisa mendongkrak defisit APBN terhadap PDB mendekati 4%," paparnya dalam keterangan tertulis. Angka ini melampaui batas aman 3% yang diatur undang-undang.

Tekanan Ganda: Inflasi dan Rupiah yang Terdepresiasi

Dampaknya tidak berhenti pada anggaran negara. Menurut Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS, tekanan inflasi akan segera terasa di tingkat rumah tangga. Kenaikan harga BBM, tarif listrik, hingga bahan pangan menjadi ancaman nyata bagi daya beli masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah.

"Hanya hitungan hari, efek perang Iran terasa di kantong kelas menengah dan bawah," ungkap Bhima.

Masalahnya diperparah oleh pelemahan nilai tukar Rupiah. Yusuf Rendy Manilet, Peneliti CORE Indonesia, menjelaskan bahwa gejolak geopolitik mendorong investor mencari aset aman seperti Dolar AS, yang otomatis menekan mata uang negara berkembang seperti Rupiah. Pelemahan ini menambah beban subsidi energi dan pembayaran utang luar negeri, menciptakan lingkaran tekanan ganda pada keuangan negara.

Langkah-Langkah Antisipasi yang Diperlukan

Menghadapi situasi darurat ini, para ahli ekonomi menawarkan sejumlah langkah korektif yang mendesak untuk diambil pemerintah. Hakam Naja dari INDEF merekomendasikan empat kebijakan utama: melakukan efisiensi anggaran secara ketat, mempercepat transisi ke energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan impor, memberikan stimulus dan deregulasi untuk dunia usaha, serta mengevaluasi ulang perjanjian dagang yang tidak lagi menguntungkan.

"Jika mau dilakukan perjanjian baru RI-AS mesti dimulai dari nol lagi. Posisi RI juga mesti berbeda dengan tim negosiasi baru yang lebih tangguh... juga tidak bisa didikte oleh tim nego AS," tegas Hakam menekankan pentingnya posisi tawar yang kuat.

Optimisme Berdasarkan Ketahanan Diri

Di tengah awan krisis yang menggumpal, Presiden Prabowo menyimpan optimisme yang berlandaskan pada potensi ketahanan domestik. Ia meyakini bahwa fondasi ketahanan pangan yang sedang dibangun akan menjadi penyangga utama bagi Indonesia dalam menghadapi badai global.

“Banyak pihak akan mengalami kesulitan, tapi minimal kita aman dalam masalah pangan,” ujar Prabowo dengan keyakinan.

Presiden menekankan bahwa jalan keluar jangka panjang terletak pada kemandirian, terutama di sektor energi. Dengan mengoptimalkan sumber daya alam dalam negeri untuk energi terbarukan, ketergantungan pada impor BBM diharapkan dapat dikurangi. Visi ini, meski menghadapi tantangan berat di depan mata, diyakini dapat membawa Indonesia keluar dari krisis dengan fondasi ekonomi yang lebih kokoh dan mandiri.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar