Paus Leo XIV Pimpin Prosesi Jumat Agung dengan Membawa Salib di Koloseum

- Sabtu, 04 April 2026 | 07:50 WIB
Paus Leo XIV Pimpin Prosesi Jumat Agung dengan Membawa Salib di Koloseum

PARADAPOS.COM - Paus Leo XIV memimpin perayaan Jumat Agung dengan memikul salib sepanjang prosesi Via Crucis di Koloseum, Roma. Peristiwa khidmat pada Jumat (3/4/2026) malam itu mencatatkan namanya sebagai Paus kedua dalam sejarah modern yang secara fisik membawa salib dalam ritual tersebut, mengikuti tradisi yang pernah dilakukan oleh Paus Yohanes Paulus II. Sekitar 30.000 umat memadati lokasi bersejarah itu, sementara jutaan lainnya mengikuti secara virtual.

Suasana Khidmat di Bawah Cahaya Lilin

Ritual malam itu berlangsung dalam kesunyian yang penuh makna, hanya diterangi oleh cahaya lilin yang berkelap-kelip. Koloseum, amfiteater megah peninggalan Kekaisaran Romawi yang rampung dibangun pada tahun 80 Masehi, menjadi saksi bisu sebuah tradisi iman yang telah berlangsung berabad-abad. Pada momen itu, monumen yang dahulu menjadi tempat pertunjukan gladiator itu berubah menjadi salah satu situs ziarah paling sentral dalam kalender liturgi Gereja Katolik, khususnya untuk perenungan 14 Stasiun Salib.

Renungan tentang Kerendahan Hati dan Martabat Manusia

Dalam renungan yang disampaikan di sela-sela prosesi, Pastor Patton menyampaikan refleksi mendalam yang menyentuh kondisi kekinian. Ia menekankan pentingnya nilai kerendahan hati dan mengingatkan jemaat akan bahaya laten dari penyalahgunaan kekuasaan serta sikap otoriter.

Pastor tersebut juga mengkritik keras sikap ketidakpedulian dan segala bentuk perilaku yang merendahkan nilai kemanusiaan. "Air mata Maria mengajarkan kita untuk tetap menjadi manusia," tuturnya dengan penuh perenungan.

Penutupan dengan Doa dan Ajakan Mengamalkan Kasih

Menutup rangkaian prosesi yang mendebarkan hati itu, Paus Leo XIV kemudian memimpin doa bersama. Dalam pesan penutupnya, Sang Pemimpin Gereja Katolik dunia mengajak seluruh umat yang hadir maupun yang menyaksikan dari jauh untuk menghidupi semangat kasih dalam keseharian. Ia mendorong partisipasi aktif setiap individu dalam kehidupan persekutuan, menguatkan ikatan iman yang menyatukan mereka di tengah dunia yang kerap dilanda gejolak.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar