PARADAPOS.COM - Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, kembali menunjukkan aktivitas vulkanis dengan sebuah erupsi pada Minggu (19/4/2026) sore. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan letusan terjadi pukul 14.03 WIT, memuntahkan kolom abu vulkanis setinggi sekitar satu kilometer ke angkasa. Abu yang teramati berwarna putih hingga kelabu ini kemudian tertiup angin menyebar ke arah timur, mendorong otoritas untuk mengeluarkan serangkaian imbauan keselamatan bagi warga setempat dan pendaki.
Laporan Resmi dari Pos Pengamatan
Data dan pengamatan visual dari petugas di lapangan menjadi dasar informasi resmi mengenai kejadian ini. Aktivitas gunung yang telah berstatus waspada (level II) ini terekam jelas oleh instrumen seismik.
Petugas pengamatan gunung api, Bambang Sugiono, menjelaskan kronologi kejadian. “Terjadi erupsi Gunung Dukono pada hari Minggu, 19 April 2026, pukul 14:03 WIT dengan tinggi kolom abu teramati ± 1.000 meter di atas puncak (± 2.087 meter di atas permukaan laut),” tuturnya pada Minggu sore.
Erupsi tersebut meninggalkan jejak pada seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan berlangsung selama hampir 47 detik. Rekaman gempa vulkanik ini mengonfirmasi bahwa energi yang dilepaskan dari dalam gunung masih signifikan, mengindikasikan tingkat aktivitas yang tetap perlu diwaspadai.
Rekomendasi Keselamatan dan Zona Bahaya
Menyikapi perkembangan ini, PVMBG dengan tegas menetapkan zona berbahaya. Masyarakat dan wisatawan dilarang untuk mendekat atau beraktivitas di dalam radius tiga kilometer dari Kawah Malupang Warirang. Larangan ini merupakan langkah standar mitigasi untuk menghindari risiko langsung seperti lontaran material pijar atau awan panas.
Selain ancaman di sekitar kawah, bahaya tidak langsung dari penyebaran abu vulkanis juga menjadi perhatian utama. Abu halus yang dapat terbang jauh mengikuti angin berpotensi mengganggu pernapasan dan visibilitas.
“Maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar Gunung Dukono untuk selalu menyediakan masker penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanis pada sistem pernapasan,” jelas Bambang Sugiono menambahkan imbauannya.
Vigilansi Berkelanjutan di Kawasan Vulkanik Aktif
Letusan dengan skala seperti ini bukanlah hal yang asing bagi Gunung Dukono, yang dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Kejadian hari ini mengingatkan kembali bahwa pemantauan secara berkelanjutan oleh instansi berwenang dan kewaspadaan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Koordinasi yang solid antara pos pengamatan, pemerintah daerah, dan warga menjadi kunci dalam meminimalisir dampak dari setiap fase aktivitas vulkanik yang terjadi.
Artikel Terkait
Gubernur Kaltim: Literasi Digital Kunci Dampak Positif Internet Desa Gratis
Remaja Sragen Kembali Bersekolah Setelah Bertahun Bantu Keluarga di Bengkel
Pemkot Palangkaraya Fokuskan Persiapan Keberangkatan 296 Calon Haji
Hashim Djojohadikusumo Desak Penegakan Hukum Tegas untuk Gangguan Ibadah