PARADAPOS.COM - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) menegaskan bahwa Pancasila merupakan kunci ketahanan bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai krisis, termasuk potensi dampak geopolitik dari konflik di Timur Tengah. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah forum diskusi di Pangkalpinang, Bangka Belitung, yang mengangkat tema ketahanan nasional.
Pancasila Sebagai Perekat di Tengah Keragaman
Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan keragaman suku, agama, dan budaya, secara alami rentan terhadap perpecahan. Namun, Hidayat Nur Wahid menggarisbawahi bahwa bangsa ini telah berulang kali berhasil melewati berbagai tantangan berat, mulai dari krisis ekonomi, politik, hingga pemberontakan. Fondasi yang menyelamatkan, menurutnya, adalah komitmen kolektif terhadap Pancasila sebagai ideologi pemersatu yang digali dari bumi Indonesia sendiri.
“Tetapi karena para tokoh bapak bangsa, baik yang religius maupun nasionalis, sepakat untuk mengakui dan menerima Pancasila sebagai ideologi bersama, maka selamatlah Indonesia,” ujarnya.
Ia melanjutkan dengan mencontohkan semangat kebersamaan dalam proses perumusan dasar negara. “Dan demi kesatuan negara dan keselamatan bangsa, para tokoh Islam itu juga rela menghilangkan tujuh kata pada sila pertama dalam Piagam Jakarta, sesuai keberatan masyarakat Indonesia Timur, dan mengubahnya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa, seperti yang terdapat pada sila pertama Pancasila,” sambung HNW.
Belajar dari Runtuhnya Negara Lain
Untuk memperkuat argumennya, HNW membandingkan ketahanan Indonesia dengan nasib beberapa negara yang telah runtuh. Ia menyoroti Uni Soviet dan Yugoslavia yang terpecah belah meski pernah menjadi kekuatan besar. Penyebab kehancuran mereka, ditegaskannya, adalah karena ideologi yang dianut tidak mengakar dari dalam, serta gagal mengelola keragaman dan krisis yang muncul.
“Uni Soviet hancur dan terpecah belah sejak 1991 akibat krisis ekonomi kronis dan kegagalan reformasi politik karena ideologi mereka; komunisme, diimpor dari luar, tidak mengakar di bumi mereka,” jelas HNW.
Nasib serupa dialami Yugoslavia yang pecah akibat konflik antaretnis. Berbeda dengan kedua negara itu, Indonesia dinilainya tetap kokoh karena memiliki ideologi yang lahir dari konsensus bersama seluruh komponen bangsa.
Peran Aktif Tokoh Islam dalam Sejarah Pancasila
HNW secara khusus menyoroti kontribusi besar tokoh-tokoh Islam dalam perjalanan panjang bangsa. Ia merinci keterlibatan aktif para ulama dan politisi dari berbagai organisasi seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Persatuan Umat Islam (PUI), dan Partai Syarikat Islam (PSI) dalam merumuskan dan menerima Pancasila.
Bahkan, nilai-nilai keislaman disebutkannya telah mewarnai diksi dalam Pancasila. “Istilah itu antara lain, adil (keadilan) dan rakyat (kerakyatan). Keduanya bukan berasal dari Bahasa Melayu, melainkan dari ungkapan khas Al-Qur'an dan hadis yang diserap ke dalam Bahasa Indonesia,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan jasa tokoh Masyumi, Mohammad Natsir, melalui Mosi Integralnya yang berperan penting dalam mengembalikan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menghadapi Krisis Masa Kini dengan Keteladanan
Menghadapi gejolak global dan krisis ekonomi yang memengaruhi harga-harga komoditas, HNW meyakini bangsa Indonesia memiliki mekanisme dan kecerdasan kolektif untuk bertahan. Ia mencontohkan respons kreatif masyarakat dalam menyiasati kenaikan harga.
“Jangan lupa, warga Indonesia itu pintar. Tidak menaikkan harga kedelai tidak menaikkan harga tempe, tapi bentuk tempenya saja diperkecil,” katanya dengan nada menggambarkan ketangguhan sehari-hari.
Di akhir paparannya, HNW menyerukan agar semangat para pendahulu dilanjutkan. Ia berharap umat Islam dan partai-partai politik, khususnya yang berbasis Islam, dapat kembali berada di garda terdepan dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa dengan berpedoman pada Pancasila.
“Kalau dahulu tokoh-tokoh Islam berperan aktif menjadi kelompok yang memberikan solusi terhadap krisis dan masalah yang dihadapi bangsa Indonesia, sudah sewajarnya bila umat Islam, ormas Islam hingga partai Islam tidak dipinggirkan, melainkan dipercaya untuk kembali menjadi garda terdepan turut menyelesaikan krisis yang kita hadapi, termasuk krisis-krisis akibat perang di Timur Tengah,” pungkas HNW.
Artikel Terkait
PSIM vs Persija di Liga 1 Resmi Dipindahkan ke Stadion I Wayan Dipta, Bali
KPK Serahkan Dua Apartemen Rampasan Senilai Rp3,52 Miliar ke Lemhannas
BRIN Siapkan Strategi Jangka Panjang Cetak Periset Kelas Dunia
Santri Yatim Temukan Nafkah dan Harapan Baru dari Dapur Program Makan Bergizi Gratis