PARADAPOS.COM - PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) mencatat penurunan laba bersih sebesar 30 persen pada kuartal pertama 2026. Pelemahan kinerja ini terutama dipicu oleh lonjakan biaya bagi hasil kepada nasabah, yang membebani pendapatan operasional bank meskipun pendapatan secara keseluruhan tumbuh positif.
Pendapatan Tumbuh, Tapi Beban Bagi Hasil Melonjak
Laporan keuangan per Maret 2026 menunjukkan gambaran yang beragam. Di satu sisi, Bank Aladin berhasil meningkatkan pendapatan sebesar 11,4 persen menjadi Rp216,9 miliar. Peningkatan ini ditopang oleh kinerja segmen inti seperti jual beli, bagi hasil, dan ujrah.
Namun, di sisi lain, biaya bagi hasil dana syirkah justru melonjak dua kali lipat menjadi Rp192,6 miliar. Lonjakan signifikan ini terutama bersumber dari deposito mudharabah, yang mencerminkan pola jatuh tempo di awal tahun.
Direktur Utama Bank Aladin Syariah, Dima Djani, memberikan penjelasan mengenai kondisi ini.
"Kenaikan biaya bagi hasil ini merupakan konsekuensi dari strategi kami dalam mengumpulkan dana pihak ketiga yang cukup agresif di kuartal-kuartal sebelumnya, yang kini memasuki periode pembagian hasil," ungkapnya.
Dampak pada Profitabilitas dan Efisiensi
Akibat lonjakan biaya tersebut, hak bagi hasil yang menjadi hak bank anjlok 75 persen menjadi hanya Rp24,3 miliar. Situasi ini langsung berdampak pada rasio efisiensi. Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) membengkak dari 88,28 persen menjadi 194,15 persen, mengindikasikan tekanan berat pada profitabilitas.
Meski demikian, manajemen berhasil melakukan efisiensi di sisi beban operasional, yang berhasil ditekan 22 persen. Pendapatan usaha lain juga tumbuh cukup baik sebesar 37 persen, didorong oleh imbalan jasa perbankan.
Aspek Kehati-hatian dan Kesehatan Likuiditas
Laporan kuartalan ini juga menyoroti aspek kehati-hatian bank. Terjadi peningkatan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN), dengan rasionya terhadap aset produktif naik menjadi 1,04 persen. Di sisi kredit, kualitas pembiayaan menunjukkan sedikit pelemahan dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) gross yang naik, meski masih berada jauh di bawah batas aman yang ditetapkan regulator.
Di tengah tantangan laba, posisi likuiditas dan modal Bank Aladin tetap tergolong sangat solid. Capital Adequacy Ratio (CAR) bertengger di level 43,6 persen, angka yang jauh di atas ketentuan minimum. Financing to Deposit Ratio (FDR) yang sebesar 50,19 persen menunjukkan bank masih memiliki ruang likuiditas yang sangat luas untuk ekspansi pembiayaan ke depan.
Secara keseluruhan, kinerja kuartal I Bank Aladin merefleksikan dinamika industri perbankan syariah, di mana pertumbuhan dana pihak ketiga yang pesat kerap diikuti oleh beban bagi hasil yang meningkat pada periode-periode tertentu, sementara kesehatan fundamental bank secara keseluruhan tetap terjaga.
Artikel Terkait
Mendagri Tito Dorong Sumut Perkuat Ekonomi Berbasis Data dan Kendalikan Inflasi
Gaikindo Sambut Keputusan BI Tahan Suku Bunga, Harap Penjualan Mobil Segera Pulih
Ganjil-Genap Jakarta Ditiadakan pada Hari Buruh 1 Mei 2026
Kisaran Biaya dan Prosedur Pembuatan Surat Keterangan Sehat untuk Lamaran Kerja