PARADAPOS.COM - PT Kereta Api Indonesia (KAI) menggandeng detikcom untuk menggelar pelatihan komunikasi bertajuk "Newscraft & Relationlab" di Artotel Thamrin, Jakarta Pusat, pada Rabu (6/5/2026). Pelatihan ini diikuti oleh 25 peserta dari bidang Corporate Communication KAI dengan fokus pada strategi branding, pemahaman cara kerja media, hingga penyusunan narasi yang kuat di era digital. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya KAI memperkuat kapasitas tim humas dalam menyampaikan informasi yang efektif dan kredibel kepada publik.
Branding Bukan Sekadar Ikut Tren
Pada sesi pertama, Head of Brand Communication detikcom, Karel Anderson, membawakan materi mengenai corporate branding dan peran humas dalam membangun citra perusahaan. Menurutnya, esensi komunikasi tidak hanya terletak pada pesan yang disampaikan, tetapi juga bagaimana pesan itu diterima dan dirasakan oleh audiens.
"Branding itu bukan diikutkan dengan hype (tren), tapi membangun value jangka panjang," ujarnya di sela-sela acara.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan komunikasi tidak bisa diukur dari satu sisi saja. "Kita bisa kontrol pesan, tapi gak bisa memaksakan kesan. Maka narasi boleh sama, rasanya yang harus beda," katanya.
News Value dan Peran AI di Ruang Redaksi
Memasuki sesi kedua, Pemimpin Redaksi detikcom, Ardhi Suryadhi, memaparkan soal jurnalisme dan proses pemberitaan. Ia menjelaskan secara gamblang bagaimana media menentukan apakah sebuah informasi layak diangkat menjadi berita.
"News Value adalah nilai berita, ya itu ke translate-nya. Tapi gampangnya, News Value adalah ini. Nah menurut saya, sebagai media yang sering berinteraksi dengan teman-teman di humas korporasi atau pemerintahan lembaga, ini penting," tuturnya.
Ardhi juga mengungkapkan bahwa proses kerja redaksi kini tidak lepas dari sentuhan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI). "Dulu, kalau misalkan saya di redaksi, 'Oh kayaknya besok rame nih'. 'Oh, besok kayaknya oke nih'. Tapi sekarang, kita sudah pakai tools semua," jelasnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti jurnalis. "Tapi pada akhirnya, yang kami lakukan salah satu tools AI (dengan AI) untuk pengembangan redaksi adalah untuk memberikan rekomendasi. Saya garis bawahi dan saya bold ya, bukan untuk menulis, untuk memberikan rekomendasi," tegasnya.
Verifikasi: Pembeda Media dengan Pengguna Sosial Media
Dalam sesi yang sama, Ardhi menyoroti pentingnya verifikasi dalam praktik jurnalistik, terutama ketika sumber informasi berasal dari media sosial.
"Buat media, boleh nggak sih mengutip dari sosial media menurut teman-teman? Kenapa? Karena diperbolehkan oleh dewan pers," ungkapnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa ada syarat yang harus dipenuhi. "Tapi, ada tapi-nya nih. Harus juga melakukan check-recheck, memeriksa fakta, dan harus diklarifikasi dan klarifikasi. Nah, ini pembedanya antara kami di media dengan pengguna sosial media perorangan," lanjutnya.
Ia berharap materi yang dibagikan dalam pelatihan ini bisa berdampak luas bagi peningkatan kualitas layanan komunikasi KAI. "Harapannya, informasi yang disampaikan (materi workshop) itu juga bisa menyeluruhi seluruh daerah yang dilayani oleh KAI. Sehingga, layanan yang diberikan kepada penggunanya itu jauh lebih baik lagi," ungkapnya.
Apresiasi dari KAI dan Harapan Peserta
VP Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyambut baik kolaborasi ini. Ia menilai pelatihan semacam ini sangat penting untuk meningkatkan kompetensi tim humas.
"Harapannya dengan adanya kolaborasi ini teman-teman (peserta) semakin bisa meningkatkan kualitas tulisannya, bagaimana juga mereka bisa meningkatkan kompetensi mereka untuk peningkatan reputasi perusahaan, dan melakukan engage terhadap semua media-media yang ada di daerah, khususnya Jawa dan Sumatera," ucapnya.
Ia pun menambahkan, "Semoga kolaborasi ini bisa memberikan insight buat KAI (dan) juga detikcom, sehingga kita ke depan bisa melakukan kerja sama yg lebih baik lagi untuk transportasi Indonesia yang lebih maju."
Salah seorang peserta, Rizky Firman Prasetyo, mengaku mendapatkan pengalaman berharga dari kegiatan ini. Menurutnya, forum yang mempertemukan langsung praktisi humas dengan pelaku industri media merupakan momen yang langka.
"Kalau menurut saya sebagai peserta yang mengikuti workshop yang diadakan KAI dan detikcom, sangat menarik ya, karena kita secara institusi, secara korporasi, bisa dipertemukan langsung dengan momen yang menurut saya sangat langka," ungkapnya.
Acara kemudian ditutup dengan games interaktif yang melibatkan seluruh peserta. Suasana menjadi lebih cair dan ringan sebelum akhirnya rangkaian Public Training 'Newscraft & Relationlab' resmi berakhir dengan sesi foto bersama.
Editor: Rico Ananda
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
TNI Rilis Urutan Pangkat dari Tamtama hingga Perwira Tinggi, Berikut Bedanya di Tiga Matra
Ratusan Warga Lahat Protes Dugaan Pelecehan Seksual oleh Pimpinan Ponpes, Korban Trauma dan Terintimidasi
Investasi Rp429 Miliar dari Korea Selatan Masuk KEK Batang, Serap 6.000 Tenaga Kerja
Presiden Prabowo Hibahkan Sapi Kurban Limosin 838 Kg untuk Warga Bangka Tengah