Ratusan Warga Lahat Protes Dugaan Pelecehan Seksual oleh Pimpinan Ponpes, Korban Trauma dan Terintimidasi

- Kamis, 07 Mei 2026 | 22:00 WIB
Ratusan Warga Lahat Protes Dugaan Pelecehan Seksual oleh Pimpinan Ponpes, Korban Trauma dan Terintimidasi

PARADAPOS.COM - Gelombang protes kembali mengguncang sebuah desa di Kecamatan Kikim Timur, Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan. Ratusan warga, yang didominasi perempuan, menggelar aksi unjuk rasa di depan sebuah pondok pesantren. Mereka menuntut pertanggungjawaban atas dugaan tindakan asusila yang dilakukan oleh pimpinan pondok, Ali Sodikin, terhadap empat orang santriwati. Aksi ini terjadi di tengah sorotan publik yang masih tajam terhadap kasus serupa di Pati, Jawa Tengah.

Warga setempat sudah dua kali menggelar demonstrasi. Kegeraman mereka memuncak setelah pihak pondok pesantren diduga berupaya menutupi skandal tersebut. Upaya itu dilakukan dengan cara memaksa pembuatan surat perdamaian yang dinilai sangat menyudutkan dan merugikan para korban. Suasana di lokasi terlihat tegang, namun warga berusaha menyuarakan tuntutan mereka secara tertib.

Para pengunjuk rasa mendesak kepolisian untuk segera turun tangan. Mereka meminta aparat berperan aktif mendatangi korban. Sebab, keempat santriwati tersebut saat ini berada dalam kondisi trauma, ketakutan, dan merasa terintimidasi. Akibatnya, mereka tidak berani melaporkan kejadian yang dialami secara langsung.

Keterbukaan dari Ketua Yayasan

Seorang warga bernama Mareta mengungkapkan bahwa terduga pelaku, Ali Sodikin, adalah pimpinan pondok pesantren tersebut. Informasi ini ia sampaikan saat memberikan keterangan kepada media.

"Kasus pelecehan seksual yang terduga dilakukan oleh pimpinan pondok yaitu bapak Ali Sodikin terhadap empat orang santri yang ada di sana," ujarnya dalam tayangan Newsline Metro TV, Kamis 7 Mei 2026.

Lebih lanjut, Mareta menjelaskan bahwa kasus pelecehan itu telah dibenarkan secara lisan oleh Ketua Yayasan, Gianto. Pengakuan ini menjadi salah satu bukti kuat yang mendorong warga untuk terus menyuarakan keadilan.

"Hal ini sudah diakui secara lisan oleh ketua yayasan yaitu Bapak Gianto. Beliau sudah membenarkan bahwa memang adanya terjadi, sudah terjadi kasus ini," terang Mareta.

Pelaku Kabur, Korban Memilih Ikhlas

Hingga saat ini, belum ada tindakan tegas dari pemerintah desa maupun pihak terkait. Situasi semakin rumit karena terduga pelaku dilaporkan telah melarikan diri, meninggalkan pondok pesantren. Langkah ini semakin menyulut kemarahan warga yang menginginkan proses hukum berjalan.

Di sisi lain, salah satu korban berinisial PS (22) memberikan pernyataan yang mengejutkan. Ia memilih untuk tidak melanjutkan kasus ini ke ranah hukum. PS mengaku telah mengikhlaskan peristiwa yang menimpanya. Permintaannya hanya satu: agar pelaku pergi dari pondok pesantren. Dan, menurutnya, permintaan itu sudah dipenuhi.

"Saya tidak ingin melanjutkan masalah ini ke ranah hukum karena saya sudah ikhlas. Dan permintaan saya untuk beliau pergi dari pondok pesantren itu sudah dipenuhi. Dan saya tidak berkenan untuk diperiksa dalam segi apapun," ucapnya.

PS menegaskan keinginannya untuk hidup tenang dan melanjutkan hidup seperti biasa. Ia menyampaikan pernyataan tersebut secara terbuka dan mengklaim bahwa keputusan itu dibuat tanpa adanya unsur keterpaksaan. Pernyataan ini pun menjadi dilema tersendiri bagi warga dan aparat yang ingin menuntaskan kasus ini.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar