PARADAPOS.COM - Iran mengklaim serangkaian serangan rudal dan drone presisi mereka dalam beberapa hari terakhir telah mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan material yang signifikan pada pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Klaim tersebut, yang mencakup ratusan korban jiwa dan penghancuran sistem pertahanan udara canggih, dibantah oleh Pentagon yang hanya mengakui jumlah korban yang jauh lebih kecil. Ketegangan semakin memanas dengan adanya laporan mengenai dugaan dukungan intelijen Rusia bagi operasi militer Iran tersebut.
Klaim Korban Jiwa dan Kerusakan Material
Melalui juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbia, Iran menyatakan serangan mereka telah menghantam target-target militer AS di berbagai negara kawasan. Klaim yang disiarkan oleh media Tasnim menyebutkan sedikitnya 200 tentara AS tewas atau terluka di Pangkalan Udara Al Dhafra, Uni Emirat Arab. Selain itu, serangan terpisah di Armada Kelima AS di Bahrain disebutkan menewaskan 21 personel militer.
Kerugian material yang diderita pihak AS juga digambarkan sangat masif. Laporan Iran menyebutkan sistem radar pertahanan udara Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) milik Lockheed Martin hancur di tiga lokasi berbeda di kawasan itu. Jika klaim ini benar, kejadian tersebut dapat menjadi pukulan terhadap arsitektur pertahanan AS yang selama ini melindungi sekutu-sekutu regionalnya.
Dugaan Keterlibatan Intelijen Rusia
Aspek yang dinilai paling mengkhawatirkan oleh pengamat adalah laporan mengenai peran Rusia. Analisis dari media internasional seperti The Washington Post mengutip dugaan pejabat AS bahwa Moskow mungkin menyediakan data intelijen satelit untuk membantu Iran melacak pergerakan aset militer AS secara real-time.
Analis militer Nicole Grajewski memberikan penilaiannya mengenai kemungkinan kerja sama ini.
"Meski Rusia tidak terlibat secara fisik dalam perang tersebut, kerja sama di bidang intelijen luar angkasa sangat mungkin terjadi pasca penandatanganan perjanjian strategis 20 tahun antara Presiden Masoud Pezeshkian dan Vladimir Putin tahun lalu," ungkap Grajewski.
Dukungan semacam itu, menurut analisis, dapat menjadi faktor kunci yang memungkinkan Iran melakukan serangan presisi meski menghadapi gangguan pada sistem komando mereka.
Bantahan dan Respons Resmi AS
Di tengah klaim besar dari Tehran, Pentagon memberikan angka korban yang jauh berbeda. Hingga laporan ini dibuat, pihak militer AS secara resmi hanya mengakui kematian enam personelnya di Kuwait, serta 18 orang lainnya yang mengalami luka serius hingga awal Maret.
Namun, pernyataan Presiden Donald Trump baru-baru ini memberikan kesan bahwa situasi mungkin lebih buruk dari yang diumumkan secara resmi.
"Sayangnya, kemungkinan besar akan ada lebih banyak lagi sebelum ini berakhir. Itulah kenyataannya," tutur Trump dalam sebuah konferensi pers di Pentagon.
Lapangan konflik juga meluas ke target-target yang tidak biasa. Militer Iran disebut menargetkan sebuah stasiun CIA yang sebelumnya tidak diungkap di Riyadh, Arab Saudi. Sementara di Bahrain, sebuah hotel yang diduga digunakan sebagai tempat evakuasi personel AS juga ikut diserang, memicu saling tuduh antara Iran dan Bahrain mengenai penggunaan "perisai manusia."
Artikel Terkait
Jurnalis India Tuding Israel Sensor Data Korban Serangan Iran
Trump Ancam Keraskan Kebijakan Luar Negeri Terhadap Kuba
Jurnalis India Soroti Kerapuhan Sistem Bunker dan Pembatasan Pers di Israel
Laporan Intelijen AS: Rusia Diduga Bantu Iran Targetkan Aset Militer AS dan Israel