Gelar Adat Baginda Pemuka Bangsa untuk Jokowi Picu Kecaman Warganet

- Minggu, 28 Juni 2026 | 00:25 WIB
Gelar Adat Baginda Pemuka Bangsa untuk Jokowi Picu Kecaman Warganet

PARADAPOS.COM - Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, menerima gelar adat kehormatan "Baginda Pemuka Bangsa" dari lima kerajaan adat Lampung dalam kunjungan kerjanya ke provinsi tersebut pada 26-28 Juni 2026. Penganugerahan yang berlangsung di tengah rangkaian agenda resmi ini sontak memicu reaksi keras dari warganet. Banyak dari mereka yang mengaitkan gelar tersebut dengan masa kepemimpinan Jokowi dan isu dugaan korupsi yang pernah mencuat ke publik.

Suasana di media sosial langsung panas. Unggahan yang membahas gelar adat ini, yang pertama kali diangkat oleh akun Instagram RMOL, dibanjiri komentar sinis dan plesetan. Hingga berita ini ditulis, unggahan tersebut telah diklik suka oleh 338 pengguna dan menuai 291 komentar. Angka ini menunjukkan betapa sensitifnya isu ini di mata publik.

Gelar Kehormatan yang Menuai Kecaman

Alih-alih diterima sebagai bentuk penghormatan, gelar "Baginda Pemuka Bangsa" justru menjadi sasaran kritik. Banyak warganet yang memplesetkannya menjadi ungkapan yang bernada satir.

“BAGINDA RAJA RAKUS BIN TAMAK,” tulis pemilik akun @hafiz_bin_aziz.

“Raja Jawa tanpa Mahkota Ambisi terus Berkuasa,” timpal akun @slow_aja6406.

Komentar-komentar ini mencerminkan kekecewaan yang sudah lama terpendam. Sejumlah warganet bahkan secara terang-terangan mengaitkan gelar tersebut dengan dugaan korupsi yang pernah disorot oleh konsorsium jurnalistik internasional, OCCRP.

“haaaa.. kurang huruf 't' gelar si Jokorupt tuh.. lagian lumayan 'telat' juga. Gelar yang lebih prestisius udah doi gapai, kog.. dianugerahkan oleh OCCRP pada Desember 2024,” tulis akun @barasukmasajak.

“Raja ngibul,” timpal akun @aunksyakur.

Kritik Tajam soal Ambisi Kekuasaan

Tak hanya soal korupsi, beberapa warganet juga menyoroti motif di balik penerimaan gelar tersebut. Mereka menilai langkah ini sebagai bagian dari ambisi untuk tetap relevan dan berkuasa.

“Kenapa orang ngotot ingin berkuasa terus..? Karena klo gak berkuasa pasti akan diperiksa dan dipenjara atas kejahatannya dimasa lalu,” tukas akun @jeri_alamri.

Kalimat ini, meski terkesan spekulatif, mewakili sentimen sebagian publik yang curiga terhadap setiap langkah politik mantan kepala negara. Di lapangan, perbincangan serupa juga terdengar di warung kopi dan ruang diskusi daring, menandakan bahwa isu ini bukan sekadar trending topic, melainkan cerminan dari kegelisahan publik yang lebih dalam.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar