Pangdam II/Sriwijaya Minta Maaf, Bentrok TNI dan Warga di Lampung Utara Diselesaikan Secara Adat

- Minggu, 07 Juni 2026 | 12:00 WIB
Pangdam II/Sriwijaya Minta Maaf, Bentrok TNI dan Warga di Lampung Utara Diselesaikan Secara Adat
PARADAPOS.COM - Bentrokan antara oknum anggota TNI dan warga terjadi di kawasan Bendungan Way Rarem, Pekurun, Kabupaten Lampung Utara, Lampung, pada Kamis sore. Insiden yang dipicu oleh kesalahpahaman ini berlangsung di area terbuka dan sempat memicu kepanikan warga. Pangdam II/Sriwijaya, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, secara langsung meminta maaf atas kejadian tersebut dan menggelar pertemuan dengan bupati serta tokoh adat setempat. Mediasi pun dilakukan dengan melibatkan unsur Forkopimda, perwakilan Korem 043/Garuda Hitam, kepala desa, perangkat desa, serta perwakilan warga dan personel TNI terkait.

Kronologi dan Pemicu Keributan

Peristiwa itu bermula dari saling dorong antara warga dan oknum anggota TNI. Suasana yang awalnya biasa saja tiba-tiba memanas hingga berujung pada aksi kejar-kejaran. Warga sekitar yang menyaksikan kejadian itu sontak panik. Berdasarkan keterangan yang dihimpun di lapangan, dugaan sementara penyebabnya adalah miskomunikasi antara kedua belah pihak. Suasana di lokasi kejadian sempat mencekam. Namun, aparat keamanan dan tokoh masyarakat setempat bergerak cepat untuk meredakan situasi. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, meskipun ketegangan sempat terasa di udara.

Langkah Mediasi dan Permintaan Maaf

Pangdam II/Sriwijaya, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, tidak tinggal diam. Ia segera mengambil langkah cepat dengan mendatangi lokasi dan bertemu langsung dengan Bupati Lampung Utara serta para tokoh adat. “Atas kejadian ini, Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Kristomei Sianturi meminta maaf dan menggelar pertemuan bersama bupati serta tokoh adat setempat,” jelasnya dalam keterangan resmi. Pertemuan itu menjadi titik awal dari proses mediasi yang lebih luas. Unsur Forkopimda, perwakilan Korem 043/Garuda Hitam, kepala desa, perangkat desa, serta perwakilan warga dan personel TNI terkait duduk bersama untuk mencari solusi terbaik.

Kesepakatan Damai Secara Adat

Proses musyawarah berlangsung dengan penuh kehangatan dan kekeluargaan. Kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikan persoalan ini secara damai. Mereka memilih jalur musyawarah adat sebagai mekanisme penyelesaian. Kesepakatan itu menjadi angin segar bagi warga sekitar yang sempat khawatir dengan situasi keamanan. Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan, seluruh pihak berkomitmen untuk menjaga kondusivitas wilayah. “Dalam musyawarah, kedua pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara damai dan kekeluargaan melalui mekanisme musyawarah adat,” ungkap salah satu perwakilan warga yang hadir.

Harapan ke Depan

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya komunikasi yang baik antara aparat dan masyarakat. Ke depan, diharapkan tidak ada lagi kesalahpahaman serupa yang berujung pada bentrokan. Semua pihak berharap agar kedamaian dan keharmonisan di Lampung Utara tetap terjaga.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar