Gempa M7,8 Guncang Filipina Selatan, 15 Tewas dan Ratusan Luka-luka

- Senin, 08 Juni 2026 | 08:25 WIB
Gempa M7,8 Guncang Filipina Selatan, 15 Tewas dan Ratusan Luka-luka
PARADAPOS.COM - Gempa bumi bawah laut berkekuatan M7,8 yang mengguncang wilayah selatan Filipina pada Senin, 8 Juni 2026, telah menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai ratusan lainnya. Guncangan keras yang berpusat di lepas pantai selatan Kota General Santos ini memicu peringatan tsunami dan membuat otoritas setempat mengimbau warga pesisir untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat serangkaian gempa susulan, termasuk satu gempa berkekuatan M6,5 yang terjadi sekitar dua jam setelah gempa utama.

Korban dan Dampak di Lapangan

Laporan dari Channel News Asia menyebutkan bahwa gempa bawah laut ini terasa sangat kuat di wilayah selatan Mindanao. Hingga berita ini diturunkan, jumlah korban jiwa terus bertambah menjadi 15 orang, sementara ratusan warga lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Di beberapa titik, bangunan dilaporkan retak dan rusak, memaksa warga untuk mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Otoritas Filipina, melalui lembaga penanggulangan bencana setempat, terus bergerak melakukan evakuasi. Warga di daerah pesisir yang terdampak langsung diminta untuk meninggalkan rumah mereka dan menuju ke dataran yang lebih tinggi sebagai langkah antisipasi terhadap gelombang tsunami susulan.

Penyebab Gempa dan Potensi Tsunami

Gempa Filipina terjadi pada pukul 06.37.42 waktu setempat. Lembaga Vulkanologi dan Seismologi Filipina (Phivolcs) segera mengeluarkan imbauan keras kepada masyarakat agar tetap waspada terhadap gempa susulan dan tidak kembali ke rumah mereka hingga peringatan tsunami resmi dicabut. "Masyarakat harus menjauhi bangunan yang rusak, dan memeriksa adanya retakan," demikian bunyi imbauan yang dikutip dari Philippine News Agency (PNA). Sementara itu, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, memberikan analisis mengenai penyebab gempa tersebut. Menurutnya, guncangan dahsyat ini dipicu oleh aktivitas subduksi di zona Megathrust Lempeng Laut Filipina. "Gempa ini dipicu aktivitas subduksi Lempeng Laut Filipina, tepatnya Megathrust Lempeng Laut Filipina," ujarnya. Namun, pernyataan tersebut mendapat perspektif berbeda dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menegaskan bahwa gempa ini tidak terkait dengan aktivitas megathrust seperti yang dipahami di Indonesia. "Wilayah laut Filipina itu sudah tidak masuk lagi dalam zona megathrust, jadi ini adalah zona subduksi," jelas Wijayanto. Lebih lanjut, Wijayanto memaparkan detail episenter gempa. Pusat gempa berada pada koordinat 5,80 derajat Lintang Utara dan 125,14 derajat Bujur Timur. Lokasinya sekitar 244 kilometer arah barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman mencapai 47 kilometer. Posisi ini menegaskan bahwa sumber gempa berasal dari aktivitas lempeng samudra yang menyusup ke bawah lempeng benua, bukan dari patahan raksasa di dasar laut yang dikenal sebagai megathrust.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar