PARADAPOS.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran dan Israel saling meluncurkan rudal dalam skala besar, mengancam prospek negosiasi damai yang tengah dijembatani Amerika Serikat. Serangan balasan Iran, yang menargetkan wilayah yang dikuasai Israel di Kota Haifa, Palestina, terjadi setelah Israel menggempur Lebanon. Situasi ini mempersulit upaya Presiden AS Donald Trump yang berusaha memisahkan konflik Lebanon dari perundingan dengan Iran.
Langit di atas Haifa, Palestina, berubah menjadi medan pertempuran ketika gelombang rudal Iran meluncur deras. Serangan ini merupakan respons langsung atas aksi militer Israel di Lebanon. Sebuah pesan tegas tercetak pada salah satu rudal yang diarahkan ke instalasi militer Israel: “Anda akan menyesal.”
Peringatan Keras dari Teheran
Iran memutuskan untuk menabuh genderang perang sebagai peringatan keras kepada Israel. Keputusan ini diambil setelah serangan Israel yang menggempur Lebanon. Tak hanya rudal, Iran juga menerbangkan drone yang membawa pesan simbolis. “Kami Tidak Akan Meninggalkan Lebanon,” demikian tulisan yang tertera pada drone tersebut, menjadi peringatan nyata bagi pasukan Israel di Palestina.
Serangan drone itu dilakukan untuk membalas serangan Israel ke pinggiran selatan Beirut pada Minggu lalu. Iran memperingatkan Israel tidak akan segan membalas jika terus menggempur Beirut.
Tanggapan Israel: Itu Kesalahan Besar
Di pihak lain, Israel menyebut serangan balasan Iran sebagai “kesalahan besar.” Meskipun demikian, militer Israel mengaku siap menghadapi berbagai serangan Iran. Mereka menegaskan tidak akan mundur dalam peperangan di Lebanon Selatan melawan front Hizbullah. Suasana di garis depan pun semakin panas, dengan kedua pihak saling berhadapan tanpa tanda-tanda mereda.
Posisi Amerika Serikat Terjepit
Saling serang antara Iran dan Israel ini membuat posisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump semakin terjepit. Di Washington DC, Rabu lalu, Trump sempat menyatakan keinginannya untuk memisahkan isu Lebanon dari poin perundingan dengan Iran. Ia meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membatalkan serangan ke Beirut. Namun, permintaan itu tidak diindahkan. Israel tetap melancarkan gempuran ke Lebanon.
Sebelumnya, serangan udara Israel yang menghantam Kota Nabatiyeh di Lebanon Selatan telah menewaskan sembilan orang. Korban jiwa termasuk tiga personel militer Lebanon. Tak berhenti di situ, serangan Israel di Saksakiyah, Lebanon Selatan, juga merenggut nyawa enam warga sipil. Ratusan keluarga kini harus mengungsi, meninggalkan rumah mereka yang hancur.
Perang sengit yang membuat Timur Tengah kian memanas ini dikhawatirkan akan membuat proses negosiasi damai yang tengah diupayakan Amerika Serikat dan Iran semakin berkabut. Para pengamat menilai, eskalasi ini bisa menggagalkan seluruh upaya diplomasi yang telah berjalan susah payah.
Artikel Terkait
I.League Umumkan 18 Stadion Klub Super League Lolos Evaluasi Infrastruktur Musim 2026/27
KPK Periksa Silmy Karim Perdana Usai Ditahan, Dalami Hasil Penggeledahan Rumah
13 Tersangka Tambang Emas Ilegal di Lahan PTPN Way Kanan Dilimpahkan ke Pengadilan, Negara Rugi Rp1,5 Triliun
Kejagung Serahkan Tersangka Ketua Nonaktif Ombudsman ke Jaksa untuk Disidang dalam Kasus Korupsi Nikel