Perencana Keuangan: Batasi Total Cicilan Utang Maksimal 30 Persen dari Penghasilan Bulanan

- Senin, 08 Juni 2026 | 23:50 WIB
Perencana Keuangan: Batasi Total Cicilan Utang Maksimal 30 Persen dari Penghasilan Bulanan
PARADAPOS.COM - Perencana keuangan Rista Zwestika, CFP, WMI dari platform edukasi keuangan Finante.id mengingatkan masyarakat agar total cicilan utang tidak melebihi 30 persen dari penghasilan bulanan. Batas ini dinilai penting untuk menjaga kondisi keuangan tetap sehat dan stabil di tengah ketidakpastian ekonomi. Menurutnya, proporsi cicilan yang terlalu besar bisa menggerus kemampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, menabung, berinvestasi, hingga menyiapkan dana darurat. “Secara umum, total cicilan sebaiknya tidak melebihi 30 persen dari penghasilan bulanan,” ujar Rista dalam keterangannya, Selasa, 9 Juni 2026. Ia menjelaskan bahwa ambang batas tersebut memberi ruang yang cukup bagi setiap individu untuk mengalokasikan pendapatan ke berbagai pos keuangan lain. Mulai dari biaya hidup harian hingga tujuan jangka panjang seperti investasi atau dana pensiun. Keseimbangan antara kewajiban membayar utang dan kebutuhan lain, lanjutnya, menjadi semakin krusial di tengah potensi kenaikan biaya hidup dan gejolak ekonomi yang masih belum menentu.

Waspada Porsi Cicilan di Atas 40 Persen

Rista juga mengingatkan masyarakat untuk mulai waspada jika total cicilan sudah mendekati atau bahkan melampaui 40 persen dari pendapatan bulanan. Kondisi ini, menurutnya, bisa mempersempit ruang gerak keuangan secara signifikan. “Jika porsi cicilan sudah mendekati atau bahkan melebihi 40 persen dari pendapatan, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat mengurangi fleksibilitas keuangan dan meningkatkan risiko kesulitan keuangan ketika terjadi kenaikan biaya hidup atau penurunan pendapatan,” tuturnya. Ia menekankan pentingnya memperhitungkan seluruh bentuk kewajiban pembayaran secara menyeluruh sebelum mengambil cicilan baru. Mulai dari kredit rumah, kredit kendaraan, kartu kredit, hingga layanan pembiayaan digital atau paylater. Prinsip ini, jelasnya, sejalan dengan pengelolaan utang yang sehat agar beban keuangan tidak melampaui kemampuan membayar.

Dana Darurat dan Tabungan Tetap Prioritas

Selain memperhatikan besaran cicilan, Rista menilai masyarakat juga perlu tetap membangun dana darurat. Menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan maupun investasi menjadi langkah penting agar memiliki ketahanan keuangan dalam jangka panjang. Menurut Rista, pengelolaan utang yang bijak bukan berarti menghindari cicilan sepenuhnya. Lebih dari itu, ia menekankan pentingnya memastikan kewajiban tersebut masih berada dalam batas aman sehingga tidak mengganggu kebutuhan pokok maupun tujuan keuangan di masa depan.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar