BGN Hentikan Sementara Pembangunan Dapur Baru dan Tutup Unit Tak Layak demi Akurasi Data Penerima MBG

- Selasa, 16 Juni 2026 | 04:25 WIB
BGN Hentikan Sementara Pembangunan Dapur Baru dan Tutup Unit Tak Layak demi Akurasi Data Penerima MBG

PARADAPOS.COM - Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara pembangunan dapur baru serta menutup unit yang dinilai tidak layak operasional. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, pada Selasa, 16 Juni 2026, sebagai respons atas temuan audit intensif yang mengungkap adanya ketidaksesuaian data dan standar operasional di lapangan. Fokus utama kebijakan ini bukanlah pada jumlah infrastruktur, melainkan pada ketepatan sasaran penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Moratorium dan Penataan Ulang Dapur MBG

Agustina menegaskan bahwa pihaknya tidak akan ragu untuk menutup Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang terbukti tidak layak. Langkah ini diambil seiring dengan kebijakan moratorium pembangunan SPPG baru. Menurutnya, penghentian sementara ini diperlukan agar BGN memiliki ruang yang cukup untuk melakukan penataan ulang dan evaluasi menyeluruh terhadap unit-unit yang sudah beroperasi.

“Sementara ini kami setop dulu, untuk kami tata ulang,” ujar Agustina dalam wawancara dengan Headline News.

Proses audit yang dilakukan BGN mengungkap adanya ketidaksinkronan data yang cukup signifikan. Awalnya, data virtual account mencatatkan jumlah dapur operasional sebanyak 27.877 unit. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan lebih mendalam, ditemukan 57 entri data ganda. Dengan demikian, angka total yang telah terkoreksi menjadi 27.820 dapur. Temuan ini menjadi salah satu pemicu utama diambilnya kebijakan moratorium.

Fokus pada Ketepatan Sasaran, Bukan Kuantitas

BGN menekankan bahwa keberadaan sebuah dapur haruslah relevan dengan kebutuhan data anak-anak yang akan menerima intervensi gizi. Artinya, pembangunan infrastruktur tidak boleh lagi bersifat serampangan, melainkan harus berdasarkan peta kebutuhan yang akurat. Agustina menjelaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah memastikan setiap penerima manfaat benar-benar merupakan anak-anak yang menjadi target pemerintah.

“Maka yang kita fokuskan adalah penerima manfaat yang memang targeted, betul-betul yang memang diharapkan pemerintah bisa mengintervensi gizi anak-anak tersebut,” pungkasnya.

Sebagai konsekuensi logis dari penataan ulang ini, sejumlah dapur yang dinilai tidak memenuhi standar kelayakan operasional berpotensi untuk digabung (merger) dengan unit lain atau bahkan ditutup sepenuhnya. Keputusan ini diambil demi menjaga kualitas dan efektivitas program secara keseluruhan.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Akurasi Data

Untuk memastikan program berjalan tepat sasaran, BGN tidak bekerja sendiri. Lembaga ini menjalin kolaborasi erat dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam penyusunan basis data medis dan kesehatan yang akurat. Selain itu, BGN juga menggandeng para ahli gizi untuk memastikan standar nutrisi yang diberikan sesuai dengan teori dan kebutuhan tumbuh kembang anak. Langkah ini menunjukkan keseriusan BGN dalam membangun sistem yang tidak hanya terukur, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar