PARADAPOS.COM - Fenomena kelas menengah yang tetap memaksakan diri untuk berlibur di tengah tekanan ekonomi kian nyata. Terinspirasi dari lagu Iwan Fals berjudul Libur Kecil Kaum Kusam yang dirilis pada 1987, kondisi ini menggambarkan ironi: di satu sisi daya beli tergerus, di sisi lain kebutuhan akan rekreasi untuk menjaga kesehatan mental tak bisa diabaikan. Alih-alih memilih destinasi mahal, mereka kini berbondong-bondong melakukan "healing irit"—sebuah strategi bertahan hidup yang justru menjadi alarm bagi kondisi ekonomi nasional.
Judul tulisan ini, terus terang, terinspirasi dari lagu ciptaan Iwan Fals, Libur Kecil Kaum Kusam. Seperti kebanyakan karya sang maestro, lagu yang dirilis pada 1987 itu sangat fasih dan jujur menggambarkan getir kehidupan kaum marginal. Dengan lirik lugas, tembang tersebut menceritakan keluarga yang hidup pas-pasan dengan hanya mengandalkan gaji sang suami yang tak seberapa. Namun, untuk urusan rekreasi, keluarga 'kaum kusam' itu tak mau kalah dengan 'orang gedean'. Walau anggaran sempit, mereka tetap berkeras menyisihkan waktu untuk berlibur agar tidak kehilangan kewarasan.
Usia lagu itu kini nyaris 40 tahun. Namun, maknanya kian relevan. Bedanya, jika dulu kisahnya hanya lekat dengan kaum pekerja rendahan, kini konsep yang sama juga mulai menjalari gaya hidup kelas menengah. Meski hidup kian terimpit, mereka masih menyempatkan diri untuk menghibur diri. Tak perlu yang jauh atau mahal, yang penting bisa sejenak melepas penat agar beban hidup yang menumpuk tidak bermutasi menjadi depresi. Tak usah yang muluk-muluk, yang penting bisa tertawa keras untuk mengusir duka dan luka yang begitu intens menusuk mereka.
'Berilah tawa yang terkeras
Untuk obati tangis lalu
Limpahkan senang paling indah
Agar luka tak nyeri, agar duka tak menari'
Kelas Menengah Terjepit di Antara Kebutuhan dan Cicilan
Belakangan, kelas menengah memang semakin terimpit. Dengan situasi perekonomian seperti sekarang, kelompok itu kian jelas menjelma menjadi kelas sosial yang tak hanya lelah secara mental, tetapi juga kehabisan napas secara finansial. Mereka terus terjepit di antara harga kebutuhan pokok yang konsisten meninggi, cicilan utang yang tak bisa ditunda barang sehari, dan pendapatan yang tak beranjak naik. Setiap hari dompet mereka dipaksa menjalani diet ketat. Sedikit saja 'melanggar', finansial bisa jebol.
Akan tetapi, di antara tekanan hidup yang tak keruan beratnya itu, bagi mereka, rekreasi tetaplah wajib. Rekreasi bahkan tidak lagi dipandang sebagai pilihan sekunder, tapi sebuah keharusan untuk mempertahankan kewarasan. Syaratnya satu, agar niat menjaga kewarasan itu tidak malah menciptakan beban baru, aktivitas rekreasi, liburan, atau dalam bahasa kekinian disebut 'healing' itu harus dilakukan seirit mungkin. Karena itu, ramailah kini fenomena healing irit di kalangan kelas menengah.
Bukti di Lapangan: Macet Tapi Dompet Tetap Ketat
Fenomena healing irit itu bukan sekadar narasi, melainkan fakta lapangan. Tengok saja kemacetan di jalur menuju Lembang atau Puncak setiap akhir pekan. Sekilas, padatnya arus kendaraan menunjukkan antusiasme wisata yang tinggi. Namun, jika kita membedah lebih dalam, ada pola konsumsi yang berubah drastis. Berdasarkan data perilaku wisatawan domestik belakangan ini, lonjakan mobilitas tidak berbanding lurus dengan belanja. Toko oleh-oleh terlihat lengang dan pedagang di lokasi wisata mengeluhkan sepinya transaksi. Kelas menengah kini juga cenderung memilih destinasi bertarif murah, kalau perlu gratis.
Tanda-tanda lain juga tampak dari dalam mobil-mobil yang terjebak dalam kemacetan itu. Bekal nasi kotak dan botol minum dari rumah menjadi 'senjata' utama agar liburan tidak menguras tabungan. Mereka tetap berwisata, tetapi dengan kalkulasi anggaran yang sangat ketat.
Ironi di Balik Statistik Pariwisata
Kondisi itu seharusnya menjadi catatan kritis bagi pemerintah. Jangan sampai kegemilangan angka kunjungan wisatawan membuat para pemangku kebijakan terlena. Membanggakan statistik pariwisata saat daya beli masyarakat sebenarnya sedang megap-megap ialah sebuah ironi yang tidak lucu. Negara mestinya tertampar saat melihat realitas ini. Negara seharusnya malu ketika para warga kelas menengah tersebut akhirnya memilih lari dari tekanan berat itu dengan rekreasi murah yang dipaksakan.
Jika healing pun harus dilakukan dengan strategi bertahan hidup lantaran takut dompet atau rekening mereka bakal boncos, itu bukan tanda kesejahteraan. Itu alarm bahwa fondasi ekonomi kelas menengah kita sedang retak. Alih-alih sekadar mengglorifikasi besarnya potensi sektor pariwisata, bahkan menonjolkan teori bahwa sektor itu bakal diuntungkan dengan melemahnya rupiah terhadap dolar AS, para pengambil kebijakan sudah saatnya berhenti menyilaukan mata dengan angka-angka pertumbuhan semu.
Yang Dibutuhkan Bukan Narasi, Tapi Kebijakan
Kelas menengah tidak butuh narasi optimisme kosong, mereka butuh kebijakan yang meringankan beban biaya hidup agar mereka tidak perlahan 'turun kelas'. Negara mesti memberikan atensi dan kebijakan intervensi yang layak agar kelas menengah, yang dulu digadang-gadang sebagai tulang punggung ekonomi nasional, tidak makin kehilangan arah. Jangan sampai karena abainya negara, wajah kelas menengah kita nantinya benar-benar menjadi kusam. Taruhannya teramat besar; masa depan bangsa ini terancam suram bila kelas menengah terus-terusan dibiarkan tenggelam dalam kusam.
Artikel Terkait
Jakarta Fair 2026 Siapkan Pesta Kembang Api Spektakuler dan Diskon Belanja 90 Persen di Puncak HUT ke-499 Jakarta
Gubernur Sulsel Sambut 392 Jemaah Haji Kloter 21 dengan Kuis dan Hadiah Tunai di Bandara Makassar
Wamen dan Menteri Dikepung Mahasiswa Usai Acara di UGM, Budiman: Bukan Dialog tapi Penghakiman
8.231 Jemaah Haji Debarkasi Makassar Selesai Dipulangkan, Fokus Kini ke Gelombang Kedua