PMKRI Jakarta Pusat Kibarkan Tiga Salib Merah Bertuliskan Foto Prabowo dan Gibran, Sebut Simbol Perlawanan terhadap Kebijakan Pemerintah

- Rabu, 17 Juni 2026 | 12:00 WIB
PMKRI Jakarta Pusat Kibarkan Tiga Salib Merah Bertuliskan Foto Prabowo dan Gibran, Sebut Simbol Perlawanan terhadap Kebijakan Pemerintah
PARADAPOS.COM - Aksi demonstrasi yang digelar Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Jakarta Pusat di kawasan Monas, Jakarta Pusat, pada Rabu (27/6) lalu menyita perhatian publik. Massa aksi membawa tiga salib merah berukuran besar, di mana dua di antaranya ditempeli foto Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa biasa, melainkan simbolisasi perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai gagal mengatasi persoalan rakyat.

Simbol Tiga Salib Merah: Bukan Soal Agama

Ketua Presidium PMKRI Cabang Jakarta Pusat, Yohanes Jonianus Taek, memberikan penjelasan rinci di tengah hiruk-pikuk aksi. Menurutnya, pemilihan simbol salib merah sama sekali tidak bermuatan agama tertentu. Ia menegaskan bahwa ini adalah simbol perlawanan universal. "Nah, dalam gerakan kali ini kami membawa konsep atau simbolisasi tiga salib merah. Salib merah tersebut merupakan simbol perlawanan. Salib bukanlah simbol religius bagi umat Kristiani, tetapi lebih daripada itu, salib merupakan simbol keberanian, simbol perlawanan terhadap penindasan, simbol perlawanan terhadap ketimpangan, simbol perlawanan terhadap ketidakadilan," jelasnya di lokasi. Lebih lanjut, Yohanes mengaitkan simbolisasi ini dengan kisah penyaliban Yesus Kristus. Ia memaparkan bahwa Yesus disalib di antara dua orang berdosa. Dalam konteks aksi ini, dua orang berdosa tersebut adalah Prabowo dan Gibran. "Dan di belakang kami telah terpampang jelas ada foto Prabowo dan Gibran yang berada di samping kiri-kanan salib yang di tengah. Foto tersebut atau salib tersebut kita angkat dari kisah penyaliban Yesus Kristus di mana Yesus disalib di antara dua orang berdosa. Nah, dua orang berdosa tersebut dalam konteks yang kali ini kami angkat tentunya dua orang berdosa itu adalah Prabowo dan Gibran," terangnya.

Kritik Terhadap Kegagalan Pemerintahan dan Oligarki

Di balik simbol yang kontroversial, PMKRI menyuarakan kritik mendasar terhadap kepemimpinan nasional. Mereka menilai duet Prabowo-Gibran belum mampu menyelesaikan problem struktural yang membelenggu masyarakat kecil, terutama dalam hal stabilitas ekonomi. "Kenapa mereka berdosa teman-teman semua? Karena Prabowo dan Gibran merupakan pucuk tertinggi kepemimpinan di negara, tidak mampu menjawab persoalan rakyat, tidak mampu membawa masyarakat yang miskin menaikkan kelasnya menjadi masyarakat yang lebih mapan, tidak mampu untuk mempersoalkan problem-problem struktural yang hari ini ada di negara, teman-teman semua," ucap Yohanes dengan nada tegas. Meskipun kritik yang dilayangkan terkesan keras, para mahasiswa mengaku masih menyisakan secercah harapan. Mereka ingin pemerintah mau berbenah diri. Namun, Yohanes juga menyoroti bahwa berbeda dengan kisah penyaliban, Prabowo dan Gibran dinilai tidak menunjukkan tanda-tanda pertobatan. "Tetapi perlu kita ketahui bersama, dua orang dalam kisah penyaliban Yesus Kristus mampu untuk mempertobatkan dirinya. Tetapi dua orang yaitu Prabowo dan Gibran yang hari ini kami angkat sebagai orang berdosa, tidak mampu bertobat, tidak menginginkan pertobatan," katanya. "Oleh karena itu kami dari PMKRI Cabang Jakarta Pusat hadir untuk dapat mempertobatkan mereka agar kebijakan-kebijakan ke depannya mampu untuk menyelesaikan segala persoalan-persoalan negara dan rakyat yang hari ini dirasakan oleh masyarakat," sambungnya.

Dorongan Reformasi Partai Politik

Tidak hanya menyoroti kinerja pemerintah, aksi ini juga menjadi alarm keras bagi sistem kepartaian nasional. PMKRI mendorong adanya reformasi total agar partai politik tidak lagi dikuasai oleh segelintir elit atau oligarki. "Partai politik hari ini kita ketahui bahwa di dalamnya itu feodal, di dalamnya itu dikuasai oleh oligarki. Partai politik semacam itu apa yang mau kita harapkan? Tentunya tidak. Oleh karena itu kami mendorong untuk negara, pemerintahan, semua pejabat yang ada mampu untuk mempertobatkan dirinya, mampu untuk bertobat agar mereformasi partai politik agar ke depannya lebih aspiratif dan lebih merepresentasi suara rakyat," imbuhnya. Suasana di sekitar Monas pagi itu terasa berbeda. Massa yang sebagian besar mengenakan jaket almamater hitam dan atribut PMKRI berdiri rapi di bawah terik matahari. Spanduk besar berisi tuntutan turut dibentangkan, menambah semarak aksi yang sarat akan simbolisme dan kritik politik.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar