Fenomena Meremehkan Flu di Indonesia
Di Indonesia, penyakit influenza atau yang akrab disebut flu, sering kali dipandang sebagai gangguan ringan. Ketika ada rekan kerja atau anggota keluarga yang absen karena flu, respons yang muncul biasanya bernada meremehkan. “Halah, cuma flu aja,” begitu kira-kira komentar yang sering terdengar.
Fenomena ini, menurut dr. Ngabila Salama, bukannya tanpa alasan. Dalam sebuah wawancara di podcast "Special Interview" kanal YouTube Cumicumi, ia mengungkap pandangannya.
“Orang Indonesia tuh sebenarnya sudah banyak banget virus kuman yang sudah masuk ke dalam tubuhnya. Jadi kalau saya bilang ya udah jorok bangetlah kayak gitu. Tapi memang dibantu dengan negara yang tropis ya,” jelasnya.
Paparan Virus yang Terus-Menerus
Letak geografis Indonesia yang berada di kawasan tropis, menurut dr. Ngabila, membuat siklus penyakit seperti batuk, demam, dan flu terjadi lebih sering. Ia menambahkan bahwa masyarakat Indonesia bisa mengalami gejala flu setiap dua hingga tiga bulan sekali. Akibatnya, kondisi ini dianggap biasa saja.
“Kalau kita bicara di luar negeri di Eropa itu banyak sekali orang yang meninggal karena Pneumonia akibat virus, virus influenza, Parainfluenza, Rhinoviruses, dsb. Jenis-jenis virus influenza A atau influenza B. Tetapi di Indonesia kita nih udah batuk pilek bisa sebulan sekali, 2 bulan sekali, 3 bulan sekali. Jadi sebenarnya di dalam tubuh kita sudah ada,” lanjutnya.
Vaksinasi sebagai Langkah Perlindungan
Berbeda dengan Indonesia, banyak negara di luar negeri mewajibkan vaksinasi flu, terutama bagi kelompok rentan. Vaksin ini diberikan setahun sekali, dan sering kali dikombinasikan dengan vaksin tipes yang dianjurkan setiap enam bulan.
“Vaksin Flu dan Vaksin Tipes ya tentunya. Karena kalau Vaksin Flu itu kan 1 tahun sekali kita berikan untuk usia 6 bulan ke atas. Terutama kelompok rentan, bayi, balita, ibu hamil, lansia, orang dengan komorbit, hipertensi, DM gitu. Kalau tipes itu bisa diberikan satu kali untuk seumur hidup usia 6 bulan ke atas untuk mencegah tipes tadi agar kita kalau jajan sembarangan kaki lima enggak mencret-mencret atau ada makanan yang enggak bersih kita enggak mencret-mencret kayak gitu,” sambungnya.
Pengalaman Pribadi Sang Dokter
dr. Ngabila sendiri menjadi contoh nyata manfaat vaksinasi. Ia menceritakan bahwa anak-anaknya di rumah jarang sekali terserang flu setelah rutin divaksin.
“Itu sangat bermanfaat sekali ya. Misalnya contohnya kalau saya pribadi, saya sudah 3 sampai 4 tahun terakhir selalu kasih vaksin full usia 6 bulan ke atas untuk anak-anak saya. Biasanya anak saya sakit 2 bulan, 3 bulan sekali ya ke dokter anak. Sekarang hampir enggak pernah sama sekali. Minum obat Paracetamol, pereda panas di rumah pun itu sudah enggak pernah terpakai kayak gitu. Karena itu karena vaksin itu usia 6 bulan ke atas,” tuturnya.
Edukasi dan Imbauan untuk Masyarakat
Dalam kesempatan yang sama, dr. Ngabila mengingatkan pentingnya keterbukaan terhadap vaksinasi flu. Ia menekankan bahwa biaya vaksin sebanding dengan manfaat perlindungan selama satu tahun penuh.
“Jadi, satu vaksin flu itu setara dengan satu porsi stik. Tetapi perbedaannya ini untuk perlindungan 1 tahun dan padahal kalau kita sakit pun ya kita mengeluarkan uang sebesar vaksin full itu lagi setiap sakit,” tutupnya.
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Sita Aset Miliaran Rupiah dari Dua Tersangka TPPU Narkoba
Polri Tangkap Buronan Most Wanted China Pelaku Penipuan Daring di Bandara Soekarno-Hatta
TikTok Watermark Bisa Dihapus Bersih Tanpa Aplikasi, Ini Caranya
Prabowo: Masa Depan Indonesia Tergantung pada Kemampuan Elite untuk Bersatu