PARADAPOS.COM - Guru Besar Fakultas Kesehatan Universitas Andalas (UNAND), Prof. Helmizar, merekomendasikan dadih sebagai pangan fungsional untuk mencegah stunting. Rekomendasi ini disampaikan dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar bidang ilmu gizi di Padang, Sabtu lalu. Menurutnya, produk fermentasi susu kerbau khas Sumatera Barat ini kaya akan protein, asam amino esensial, mineral, dan probiotik yang berperan penting dalam perbaikan gizi ibu dan anak.
Riset Ungkap Efek Positif pada Ibu Hamil
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Helmizar memaparkan hasil penelitian intervensi yang melibatkan ibu hamil. Ia menjelaskan bahwa suplementasi dadih, baik yang diberikan sendiri maupun dikombinasikan dengan zink, memberikan dampak nyata terhadap status gizi para ibu.
"Dadih merupakan fermentasi susu kerbau tradisional yang kaya protein, asam amino esensial, mineral serta mengandung bakteri asam laktat yang berfungsi sebagai probiotik," ungkapnya di hadapan para akademisi dan undangan.
Lebih lanjut, ia merinci bahwa intervensi tersebut mampu meningkatkan status mikronutrien, memperbaiki sistem imun ibu dan bayi, serta menurunkan prevalensi defisiensi zink pada ibu hamil. Temuan lain yang tak kalah penting adalah peningkatan kadar secretory Immunoglobulin A, sebuah indikator kunci dalam sistem kekebalan mukosa.
"Selain itu, bayi yang lahir dari ibu yang mendapatkan intervensi menunjukkan kecenderungan memiliki status kesehatan dan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol," ujarnya, menekankan manfaat jangka pendek yang terlihat sejak masa kehamilan.
Dampak pada Tumbuh Kembang Anak hingga Usia Dua Tahun
Penelitian tidak berhenti pada masa kehamilan. Prof. Helmizar melanjutkan pengamatannya hingga anak-anak tersebut berusia dua tahun. Hasilnya, prevalensi stunting, kurang gizi, dan kurus cenderung lebih rendah pada kelompok yang ibunya mendapat suplementasi dadih dan zink selama kehamilan.
Ia menambahkan, ketika perkembangan kognitif, bahasa, dan motorik anak-anak ini diukur menggunakan instrumen Bayley Scale III, sebagian besar dari mereka berada pada kategori perkembangan normal hingga superior. Ini menjadi indikator kuat bahwa nutrisi sejak dalam kandungan memiliki efek berantai pada kualitas hidup anak.
Menurut Prof. Helmizar, upaya mewujudkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045 tidak bisa hanya bertumpu pada satu faktor. Intervensi gizi selama 1.000 hari pertama kehidupan memang krusial, namun harus diimbangi dengan pola asuh yang tepat.
Ia menyebut pola asuh berbasis kearifan lokal di Sumatera Barat yang dikenal sebagai Manjujai juga terbukti mendukung perkembangan kognitif, bahasa, dan sosial emosional anak. Perpaduan antara asupan gizi optimal dari dadih dan stimulasi dari pola asuh tradisional inilah yang dinilai sebagai kunci pencegahan stunting secara holistik.
Artikel Terkait
Kemenhan: Empat Penyandang Disabilitas Lolos Seleksi Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia
Menteri Agama Hadiri Nikah Massal Gratis 20 Pasangan di Pemalang, Peserta Dapat Mahar hingga Modal Usaha
Titiek Soeharto Apresiasi Tingkat Kepercayaan Publik ke Polri Capai 82,4 Persen
Polda Jambi Musnahkan Ratusan Gram Sabu hingga 52.963 Butir Ekstasi saat Hari Anti Narkotika