Rupiah Diperkirakan Terus Tertekan ke Kisaran Rp18.050 per Dolar AS, Dipicu Data Manufaktur dan Sentimen Global

- Kamis, 02 Juli 2026 | 22:50 WIB
Rupiah Diperkirakan Terus Tertekan ke Kisaran Rp18.050 per Dolar AS, Dipicu Data Manufaktur dan Sentimen Global
PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Jumat, 3 Juli 2026, dengan kisaran pergerakan diperkirakan mencapai Rp17.990 hingga Rp18.050 per dolar AS. Tekanan ini datang dari berbagai arah, mulai dari data manufaktur yang melemah, kekhawatiran terhadap fundamental ekonomi domestik, hingga antisipasi pasar menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, Kamis (2/7/2026), rupiah sudah terpantau melemah ke level Rp17.995 per dolar AS, seiring dengan mayoritas mata uang Asia yang juga berada di bawah tekanan.

Sentimen Global dan Domestik Membayangi Pergerakan Rupiah

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tertekan. Menurutnya, sentimen global masih didominasi oleh perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Qatar menyebut kedua negara mencatat kemajuan positif dalam pembicaraan tidak langsung di Doha, yang membahas keamanan Selat Hormuz dan pencairan dana Iran. "Pasar juga masih mencermati arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat atau The Fed," ujarnya. Pelaku pasar saat ini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September mencapai sekitar 67%, berdasarkan data dari CME FedWatch Tool. Dari sisi data ekonomi AS, laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP menunjukkan penambahan tenaga kerja sektor swasta sebanyak 98.000 pada Juni. Angka ini lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar yang sebesar 113.000. Sementara itu, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur ISM juga tercatat menurun menjadi 53,3 dari sebelumnya 54,0.

Fokus pada Data Nonfarm Payrolls AS

Perhatian investor kini beralih pada rilis data nonfarm payrolls Amerika Serikat. Data tersebut diperkirakan menunjukkan tambahan tenaga kerja sebanyak 110.000 orang pada Juni, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan di level 4,3%. Angka ini akan menjadi penentu utama bagi pergerakan dolar AS dan, secara tidak langsung, nilai tukar rupiah. Di sisi lain, pergerakan mata uang Asia pada perdagangan sebelumnya menunjukkan variasi. Berdasarkan data RTI Infokom, yuan China menguat 0,06%, yen Jepang naik 0,84%, won Korea Selatan menguat 0,69%, dolar Singapura naik 0,20%, dan baht Thailand menguat 0,09%. Sementara itu, dolar Hong Kong turun tipis 0,01% dan dolar Taiwan melemah 0,07%.

Tekanan dari Dalam Negeri: Dari Manufaktur hingga Fiskal

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai kepercayaan pelaku pasar terhadap Indonesia tengah menghadapi ujian berat. Hal ini dipicu oleh munculnya berbagai sentimen negatif dalam beberapa waktu terakhir. Mulai dari kasus korupsi berskala besar, meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah setelah neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit pada Mei, lonjakan inflasi, hingga penundaan pengumuman terkait pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI. Tekanan juga datang dari sektor manufaktur. Data S&P Global menunjukkan PMI manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026. Angka tersebut menjadi kontraksi terdalam dalam setahun, seiring penurunan pesanan baru yang mendorong penurunan output terbesar sejak April 2025.

Cadangan Devisa di Bawah Tekanan

Selain itu, lembaga pemeringkat Fitch Ratings memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan. Angka ini sedikit di bawah median negara berperingkat BBB yang mencapai lima bulan. Menurut Fitch, penurunan cadangan devisa dipicu oleh memburuknya terms of trade akibat kenaikan harga energi global, intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah, serta pembayaran utang luar negeri.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar