PARADAPOS.COM - Novak Djokovic harus mengakui keunggulan Jannik Sinner di semifinal Wimbledon 2026, Sabtu (11/7/2026). Petenis Serbia berusia 39 tahun itu tersingkir dalam tiga set langsung dari petenis nomor satu dunia asal Italia tersebut. Kekalahan ini menambah daftar panjang kekecewaan Djokovic di All England Club, di mana ia gagal merebut trofi sejak 2022. Meski demikian, ia menegaskan bahwa selama kondisi fisiknya prima, dirinya masih percaya diri bisa bersaing di level tertinggi dan mengejar gelar Grand Slam ke-25.
Hasil yang Pahit, Namun Realistis
Di lapangan hijau Wimbledon, atmosfer terasa berbeda. Sorak penonton yang biasanya mendukung Djokovic kali ini terbagi. Sinner tampil tanpa cela, memaksa Djokovic mengakui keunggulan lawannya.
“Bagus, tetapi belum cukup,” kata Djokovic, dikutip dari ATP, Sabtu, 11 Juli 2026.
Pernyataan itu mencerminkan standar tinggi yang selalu ia pegang. Dari tiga turnamen Grand Slam musim ini, Djokovic mencatatkan satu final dan satu semifinal. Bandingkan dengan musim lalu, di mana ia sukses menembus semifinal di semua ajang Grand Slam.
“Saya rasa bagi 99 persen pemain, itu hasil yang sangat bagus. Bagi saya, itu bagus, tetapi belum cukup, karena saya terbiasa dengan hasil dan pencapaian di level tertinggi,” ujar petenis 39 tahun itu.
Rekor Pertemuan dengan Sinner
Kekalahan di Wimbledon membuat rekor pertemuan Djokovic melawan Sinner dalam tujuh laga terakhir menjadi 1-6. Padahal, sebelumnya ia berhasil mengalahkan Sinner di semifinal Australian Open awal tahun ini. Namun, di lapangan rumput London, Sinner tampil superior.
“Tentu saya kecewa. Saya ingin memenangi Wimbledon. Itulah alasan saya masih bekerja sangat keras. Namun, saya kalah dari pemain yang lebih baik. Saya harus menerimanya,” ungkapnya.
Djokovic memuji penampilan Sinner yang solid, terutama dalam hal servis dan konsistensi permainan dari baseline. Ia mengakui bahwa lawannya tampil satu atau dua level di atas dirinya.
“Saya tidak kecewa pada diri sendiri. Saya rasa saya tidak melakukan banyak kesalahan. Dia memang tampil satu atau dua level lebih baik daripada saya,” ujar mantan petenis nomor satu dunia itu.
Kilas Balik Wimbledon: Dari Trofi ke Kekalahan Beruntun
Trofi Wimbledon terakhir Djokovic raih pada 2022. Sejak itu, ia dua kali kalah di final dari Carlos Alcaraz (2023 dan 2024), sebelum disingkirkan Sinner di semifinal 2025 dan 2026. Setiap kekalahan terasa semakin berat, namun Djokovic tetap mencari sisi positif.
Ia menyoroti kemenangan dramatis atas Felix Auger-Aliassime di perempat final yang berlangsung 5 jam 15 menit. Pertandingan itu menjadi rekor perempat final terpanjang di Wimbledon.
“Saya bangga dengan apa yang saya capai beberapa hari lalu. Saya membuktikan kepada diri sendiri dan orang lain bahwa saya masih bisa bermain di level tertinggi. Saya mencapai empat besar Wimbledon,” kata Djokovic.
Semangat Juang yang Tak Padam
Meski performanya secara keseluruhan belum sebaik saat tampil di Australian Open, Djokovic menegaskan bahwa semangat juang dan dedikasinya tetap konsisten. Ia tidak menyerah pada usia atau tekanan.
Kini, perhatiannya tertuju pada US Open 2026. Ajang itu menjadi kesempatan berikutnya untuk mengejar gelar Grand Slam ke-25. Terakhir kali ia menjadi juara di Flushing Meadows pada 2023. Dengan kondisi fisik yang terjaga, Djokovic yakin masih bisa bersaing di jajaran lima besar dunia dan merebut gelar Grand Slam.
Editor: Andri Setiawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
KH Zulfa Mustofa Siap Maju sebagai Calon Ketua Umum PBNU jika Didukung Pengurus Cabang dan Wilayah
KPK Terima Undangan Polri untuk Koordinasi dan Supervisi Tiga Perkara Korupsi
Pemegang BRI Kartu Kredit Bisa Dapat Potongan Rp125.000 untuk Tiket Kereta dan Whoosh di tiket.com
Inggris Vs Norwegia: Tuchel Siapkan Strategi Khusus Meredam Haaland di Perempat Final Piala Dunia 2026