BI Tahan Suku Bunga di 5,75%, Mirae Asset Sebut Ruang Kenaikan 25 bps Masih Terbuka

- Kamis, 20 Agustus 2026 | 04:00 WIB
BI Tahan Suku Bunga di 5,75%, Mirae Asset Sebut Ruang Kenaikan 25 bps Masih Terbuka

PARADAPOS.COM - Bank Indonesia (BI) masih menyimpan opsi untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps), meskipun ruang untuk mempertahankan suku bunga di level 5,75% dinilai lebih leluasa. Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyampaikan pandangan ini dalam riset yang ditulis Jessica Tasijawa, menyusul keputusan BI yang kembali menahan suku bunga kebijakan pada Agustus 2026, sejalan dengan ekspektasi pasar. Keputusan ini didukung oleh kondisi pasar keuangan yang membaik, dengan penguatan Rupiah dan aliran modal asing yang masuk, meskipun ketidakpastian global masih membayangi. Namun, para analis mengingatkan bahwa ruang untuk penyesuaian kebijakan moneter belum sepenuhnya tertutup. Jika tekanan terhadap nilai tukar Rupiah meningkat hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, atau inflasi kembali merangkak naik di atas 3,5% hingga akhir 2026, maka skenario kenaikan suku bunga akan kembali menjadi relevan. Faktor eksternal seperti potensi kenaikan Federal Funds Rate (FFR) dan penguatan indeks dolar AS (DXY) juga menjadi variabel yang terus dipantau. Sinyal dari Pasar Keuangan Keputusan BI untuk menahan suku bunga pada Agustus 2026 bukan tanpa alasan. Data menunjukkan Rupiah menguat 0,8% secara bulanan ke level Rp17.855 per dolar AS. Aliran masuk portofolio asing pun tercatat solid, mencapai USD1,8 miliar, yang sebagian besar ditopang oleh instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). Kondisi ini memberikan ruang bernapas bagi bank sentral. Meski demikian, Mirae Asset menilai situasi ini tidak membuat BI lengah. "Kami melihat ruang kenaikan suku bunga sebesar 25 bps masih terbuka," tulis Jessica Tasijawa dalam risetnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa BI berada dalam posisi siaga, siap bertindak jika gejolak eksternal atau tekanan inflasi domestik mulai mengganggu stabilitas. Ketidakpastian Global dan Risiko Domestik Di sisi lain, lanskap global masih jauh dari kondusif. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah berpotensi memicu gejolak harga energi. Ditambah lagi, risiko kenaikan harga pangan akibat fenomena El Niño serta potensi kenaikan harga minyak dunia dapat menekan inflasi domestik ke depan. Kombinasi faktor-faktor inilah yang membuat BI tidak serta merta menutup opsi pengetatan moneter. Namun, urgensi untuk menaikkan suku bunga saat ini dinilai lebih terbatas. Mengapa demikian? Sebab, BI kini semakin mengandalkan instrumen non-suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar, sebuah strategi yang dinilai lebih tepat sasaran tanpa harus mengorbankan momentum pertumbuhan ekonomi. Perkuat Stabilitas Rupiah untuk Dukung Pertumbuhan BI memang tengah gencar memperluas instrumen stabilisasi Rupiah. Salah satu langkahnya adalah dengan memperluas insentif premi FX swap hedging sebesar 12,5%. Insentif yang tadinya hanya menyasar portfolio inflows ini akan mulai September 2026 mencakup pinjaman luar negeri perbankan dan foreign direct investment (FDI). Fleksibilitas rollover untuk sisa periode kontrak hingga tiga tahun juga ditawarkan. Selain itu, BI memberikan insentif untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) sebesar 15%, serta insentif gabungan FX swap dan DNDF sebesar 10% melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Perluasan insentif ini diharapkan mampu memperdalam likuiditas valuta asing dan menarik sumber aliran modal yang lebih beragam. Dengan begitu, stabilitas Rupiah tidak lagi bergantung sepenuhnya pada daya tarik imbal hasil tinggi dari kenaikan suku bunga. Lebih jauh lagi, sinyal perhatian BI terhadap pertumbuhan ekonomi kian terlihat. Bank sentral menegaskan upayanya untuk membatasi kenaikan yield SRBI lebih lanjut. Hasilnya, pertumbuhan kredit meningkat menjadi 13,6% secara tahunan pada Agustus 2026, naik dari 12,7% pada Juni 2026. Ini mengindikasikan adanya pergeseran fokus dari sekadar mengejar stabilitas nilai tukar menjadi juga mendorong fungsi intermediasi perbankan. Data kepemilikan SRBI oleh perbankan pun menunjukkan tren penurunan, dari rata-rata Rp648 triliun dalam lima bulan pertama 2026 menjadi sekitar Rp618 triliun dalam dua bulan terakhir. Penurunan ini mengindikasikan pergeseran fungsi stabilisasi Rupiah, di mana BI kini lebih mengandalkan partisipasi investor asing. Konsekuensinya, likuiditas domestik menjadi lebih longgar untuk disalurkan ke sektor riil. Dengan berbagai pertimbangan tersebut, kenaikan suku bunga 25 bps tampaknya belum menjadi pilihan utama BI dalam waktu dekat. Opsi tersebut tetap berada di atas meja, tetapi hanya akan diambil jika stabilitas Rupiah dan inflasi kembali menghadapi tekanan signifikan. Dengan kata lain, arah kebijakan moneter BI ke depan akan sangat dinamis, bergantung pada perkembangan nilai tukar, inflasi domestik, kebijakan The Fed, serta risiko harga pangan dan energi global.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar