Ahmad Ali Lecehkan Megawati: Gaya Politik Konfrontatif PSI di Bawah Kepemimpinannya
Sejak ditunjuk sebagai Ketua Harian PSI, Ahmad Ali kerap menciptakan kontroversi. Gaya politiknya yang blak-blakan lebih banyak membangun tembok pemisah daripada jembatan penghubung dengan kekuatan politik lain di Indonesia.
Serangan Terbuka ke Tokoh Nasional
Pidato perdananya menyeret Presiden Prabowo Subianto untuk menyelesaikan kasus ijazah Joko Widodo (Jokowi) dan Gibran Rakabuming Raka, yang sebelumnya diusung oleh Roy Suryo. Namun, seruan ini tidak menggoyahkan Presiden Prabowo.
Belakangan, Ahmad Ali juga menyasar Megawati Soekarnoputri dengan diksi "nenek-nenek" yang telah puluhan tahun menjabat sebagai ketua umum partai. Meski tidak menyebut nama secara langsung, arah serangan ini jelas tertuju ke Megawati. Penggunaan diksi tersebut dinilai tidak pantas dan merupakan bentuk pelecehan yang terang-benderang di ruang publik.
Gaya Politik Ahmad Ali: Dari NasDem Hingga PSI
Gaya konfrontatif Ahmad Ali bukanlah hal baru. Saat masih berada di Partai NasDem, ia juga kerap menciptakan kontroversi. Namun, di PSI, gayanya tampak semakin menjadi-jadi. Ia tidak hanya menyerang Megawati, tetapi juga menyentil Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan terus menyoroti kasus ijazah Jokowi.
Bagi Ahmad Ali, Jokowi adalah segalanya. Ia tampak bertindak tanpa mempertimbangkan dampak politiknya, menyuarakan apa yang dianggap perlu tanpa memedulikan norma kesopanan.
Rekam Jelek Elektoral dan Masa Depan PSI
Gaya politik ini berbanding lurus dengan rekam jejak elektoralnya. Ahmad Ali gagal terpilih sebagai Gubernur Sulawesi Tengah, tidak kembali menjadi anggota DPR dari NasDem, dan gagal memenangkan pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar pada Pilpres sebelumnya.
Kini, dengan gaya yang sama, Ahmad Ali menyatakan PSI akan menghabisi semua partai yang menghalangi kemenangan PSI di Pemilu 2029. Pernyataan ini dianggap aneh, mengingat semua partai pasti akan bersaing untuk menang.
Fakta menunjukkan PSI belum berhasil lolos ambang batas parlemen, meski telah menampilkan Jokowi sebagai simbol dalam dua pemilu terakhir. Hal ini membuktikan bahwa identifikasi partai dengan seorang tokoh tidak serta-merta dialihkan menjadi suara.
Strategi "Pasang Badan" untuk Jokowi
Ahmad Ali telah memerintahkan kader PSI untuk "pasang badan" membela Jokowi terhadap segala serangan, termasuk isu ijazah. Hal ini terlihat dari respons kerasnya terhadap Benny K Harman dari Partai Demokrat yang menyentil kasus tersebut.
Pertanyaannya, apakah strategi membesarkan PSI dengan cara konfrontatif dan membela Jokowi secara total akan membuahkan hasil? Atau justru akan mengisolasi PSI dari percaturan politik nasional? Waktu yang akan menjawabnya.
Artikel Terkait
Roy Suryo Paparkan Dugaan Ciri Fisik Ijazah Palsu Jokowi ke Penyidik
Partai Prima Tantang NasDem: Jika Naikkan Threshold, Jangan Tanggung-Tanggung
Pengamat Kritik Dukungan Jokowi untuk Revisi UU KPK, Sebut Upaya Lepas Tanggung Jawab
Pengamat Kritik Usulan Naikkan Ambang Batas Parlemen Jadi 7 Persen