Oleh karena itu, Alip menilai langkah yang lebih rasional secara politik bagi PKS adalah mengambil posisi berseberangan. "Bergabung dengan koalisi Pilkada DPRD tidak menambah nilai politik apapun bagi PKS," jelasnya.
Peluang Koalisi Baru dan Posisi Moral
Jika PKS bersikap menolak dan bersatu dengan PDIP yang telah tegas menolak wacana ini, mereka berpotensi tampil sebagai kekuatan moral. Posisi ini dapat membangun citra sebagai partai yang berpihak pada rakyat dan menjaga marwah reformasi.
Sikap ini juga berpotensi melahirkan konfigurasi politik baru yang menarik, yaitu koalisi nasionalis-religius dengan daya tarik elektoral yang kuat. Alip menyebutnya secara simbolik sebagai "koalisi merah-putih sejati", dengan PDIP mewakili merah dan PKS mewakili putih.
Pertaruhan Citra di Mata Publik
Pilihan PKS ini menjadi pertaruhan citra yang signifikan. "Publik sedang menunggu, apakah PKS akan tenggelam dalam pelukan kekuasaan, atau berdiri sebagai partai yang tetap kritis ketika demokrasi dibajak oleh kepentingan elite," pungkas Alip.
Hingga saat ini, mayoritas partai seperti Gerindra, Golkar, PKB, Nasdem, dan PAN telah menyatakan dukungan terhadap Pilkada melalui DPRD. Sementara itu, PDIP telah secara tegas menolak wacana tersebut, meninggalkan PKS dalam posisi yang diamati secara ketat oleh berbagai pihak.
Artikel Terkait
Kuasa Hukum Roy Suryo Sindir Eggi-Damai Temui Jokowi: Ada Pejuang, Ada Pecundang
Roy Suryo Sindir Eggi Sudjana & Damai Hari Lubis Usai Sowan ke Jokowi: Pecundang!
Pertemuan Eggi Sudjana dan Damai Lubis dengan Jokowi di Solo Dikonfirmasi: Tujuan & Dampaknya
6 Versi Ijazah Jokowi Menurut Dokter Tifa, Termasuk dari Polda Metro Jaya