PARADAPOS.COM - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mengungkapkan serangkaian ancaman dan serangan karakter yang dialaminya. Menurut pengakuannya, teror mulai dari ancaman penculikan hingga pembunuhan karakter melalui media sosial itu ia terima setelah aktif mengkritisi sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Empat Tuduhan yang Dihadapi
Dalam sebuah podcast yang tayang Jumat malam, 20 Februari 2026, Tiyo menguraikan dengan rinci empat bentuk serangan karakter yang dialaminya. Ia menilai serangan-serangan itu merupakan upaya sistematis untuk menjatuhkan kredibilitasnya dengan mencari-cari aib pribadi.
"Ada serangan karakter juga di media-media sosial. Saya mencatat ada empat. Dan saya rasa semua berangkat dari satu hal. Mereka berusaha mencari aib saya secara personal. Tetapi mohon maaf, kemudian gagal. Sehingga yang terjadi adalah mengarang aib," tuturnya.
Isu LGBT dan Foto Hasil Editan AI
Tuduhan pertama yang beredar, menurut Tiyo, adalah isu terkait orientasi seksual. Ia merasa tuduhan ini muncul karena pihak-pihak tertentu gagal menemukan informasi tentang kehidupan pribadinya.
"Mereka menyebarkan isu bahwa Ketua BEM UGM itu LGBT. Mereka menyebarkan isu itu, yang saya tahu mungkin karena mereka gagal menemukan siapa pacar saya. Persoalannya memang kita ini lagi berkomitmen untuk tidak pacaran. Tapi mohon maaf, jangan karena kita tidak punya pacar perempuan, terus dikira kita suka laki-laki," ungkapnya.
Serangan berikutnya melibatkan teknologi. Tiyo menyebut ada foto hasil editan Artificial Intelligence (AI) yang dibuat seolah-olah dirinya bersama seorang pemandu lagu (LC) di tempat karaoke.
"Ada foto kami yang di-generate by Artificial Intelligence menjadi seseorang muda bersama seorang perempuan sambil megang mic. Tulisannya 'Tiyo suka nyewa LC'. Ini bagi saya juga menggelikan. Kalau yang awal tadi LGBT menjijikkan. Karena saya ini anak desa yang bahkan tidak paham dunia itu," jelasnya.
Tuduhan Penyalahgunaan Dana dan Afiliasi Politik
Dua tuduhan terakhir yang ia bantah berkaitan dengan integritas keuangan dan netralitas politik. Tuduhan ketiga soal penyelewengan dana dinilainya sangat mudah dipatahkan mengingat posisinya yang transparan.
"Kalau saya nilep uang, saya sudah lama itu diberhentikan (sebagai Ketua BEM UGM). Jadi tidak ada itu nilep-nilep uang," tegasnya.
Adapun tuduhan keempat menyangkut afiliasi politik. Tiyo dikait-kaitkan sebagai pendukung tertentu karena pernah berfoto bersama mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Ia menegaskan bahwa pertemuannya tersebut murni dalam kapasitas sebagai keluarga alumni.
"Karena memang ada foto saya bersama Mas Anies Baswedan. Tapi harap dipahami, hubungan saya sama Mas Anies Baswedan bukan hubungan politik, tapi hubungan keluarga sebagai alumni (UGM), karena kami pernah datang reuni alumni pimpinan BEM UGM. Dan Mas Anies datang sebagai Ketua Senat Mahasiswa tahun 1992. Dan itu forum terbuka untuk seluruh alumni BEM UGM," pungkasnya.
Keseluruhan pengalaman ini menggambarkan tekanan yang dihadapi aktivis kampus yang vokal, di mana kritik yang disampaikan kerap dibalas dengan serangan personal di ranah daring, alih-alih debat substansial di ruang publik.
Artikel Terkait
Sjafrie Sjamsoeddin Tegaskan Tidak Berminat Maju sebagai Cawapres 2029
Lukisan SBY Terjual Rp6,5 Miliar ke Taipan Batu Bara dalam Lelang Amal
Sidang Gugatan Ijazah Jokowi Lanjut, Penggugat Minta Presiden Hadir Bawa Dokumen Asli
Analis Nilai Gibran Cawapres 2024 Kecelakaan Sejarah, Prabowo Diprediksi Ubah Formula di 2029