Analis: Reshuffle Kabinet Jadi Ajang Adu Pengaruh PDIP vs Kubu Jokowi

- Jumat, 26 Juni 2026 | 01:25 WIB
Analis: Reshuffle Kabinet Jadi Ajang Adu Pengaruh PDIP vs Kubu Jokowi
PARADAPOS.COM - Isu reshuffle Kabinet Merah Putih oleh Presiden Prabowo Subianto kembali mengemuka. Di balik spekulasi tersebut, Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia (ASI), Ali Rif'an, menilai ada dinamika politik yang lebih dalam: persaingan pengaruh antara PDIP dan kubu yang dikenal sebagai “Geng Solo” atau pendukung Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi). Pengamat ini melihat ketegangan itu menjadi faktor utama yang mempengaruhi peta koalisi pemerintahan saat ini.

Dinamika Politik yang Menghangat

Ali Rif'an mengamati bahwa suhu politik tanah air mulai terasa panas. Salah satu pemicunya adalah posisi PDIP yang hingga kini belum secara tegas menyatakan diri sebagai oposisi. Partai berlambang banteng moncong putih itu lebih memilih menggunakan istilah “mitra penyeimbang pemerintah” daripada menyatakan diri berseberangan secara langsung. Menurut Ali, pilihan diksi tersebut bukan tanpa alasan. Ada sejarah panjang hubungan personal yang mempengaruhinya.

Hubungan Megawati dan Prabowo Jadi Kunci

“Meskipun harus diakui, posisi PDIP itu dilema, karena hubungan Ibu Mega dengan Pak Prabowo selama ini baik. Beda dengan zaman SBY (Susilo Bambang Yudhoyono Presiden ke-6 RI) yang saat itu hubungannya tidak baik,” tutur Ali kepada RMOL di Jakarta, Kamis, 25 Juni 2026. Pernyataan itu menggambarkan situasi yang unik. Di satu sisi, PDIP ingin menjaga jarak dengan pemerintahan, namun di sisi lain, hubungan harmonis antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Presiden Prabowo yang juga Ketua Umum Partai Gerindra membuat langkah politik menjadi lebih rumit.

Strategi PDIP: Adu Pengaruh dengan “Geng Solo”

Ali Rif'an, yang merupakan Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI), menilai pola hubungan yang dijalankan PDIP saat ini memiliki satu tujuan utama. Partai tersebut berupaya memastikan agar pengaruh Jokowi tidak terlalu kuat terhadap Presiden Prabowo dan jajaran pemerintahannya. “Di saat bersamaan, mungkin bisa dibenarkan bahwa posisi PDIP masih berusaha adu pengaruh dengan 'Solo',” ujarnya. Istilah “Solo” atau “Geng Solo” merujuk pada jaringan politik yang dekat dengan Jokowi. Bagi PDIP, kelompok ini dianggap sebagai pesaing utama dalam mempengaruhi arah kebijakan pemerintahan Prabowo.

Peluang Masuk Kabinet dan Syaratnya

Menguatnya isu reshuffle kabinet membuat spekulasi tentang kemungkinan PDIP bergabung ke dalam pemerintahan semakin santer terdengar. Ali Rif'an memperkirakan peluang itu sangat terbuka. Akan tetapi, dia meyakini ada satu syarat mutlak yang harus dipenuhi. PDIP baru akan bergabung sebagai koalisi pemerintahan jika pengaruh “Solo” terhadap Presiden Prabowo diakhiri. Dengan begitu, ia menambahkan, “noktah merah” yang dibuat Jokowi saat Pilpres 2024 lalu—yang dianggap sebagai pengkhianatan oleh sebagian kader PDIP—menjadi terbayarkan. “Mungkin saja masih ada peluang PDIP masuk pemerintahan asalkan 'pengaruh Solo' pada Presiden Prabowo dilepas,” jelasnya.

Kekhawatiran akan Dominasi Kubu Lain

Ali kemudian menekankan bahwa permusuhan politik PDIP saat ini lebih tertuju pada Jokowi, bukan pada Prabowo. Hal inilah yang membuat partai tersebut enggan mengambil posisi oposisi yang keras. “Karena sejauh ini, baik Ibu Mega dan kader-kader PDIP lainnya, bencinya dengan Jokowi, bukan dengan Prabowo. Artinya, PDIP khawatir jika benar-benar jadi oposisi dan menjauh dari Prabowo, nanti yang dominan adalah 'Geng Solo',” demikian Ali menambahkan. Situasi ini, menurutnya, menempatkan PDIP dalam posisi yang penuh perhitungan. Mereka harus menjaga keseimbangan antara menunjukkan sikap kritis terhadap pemerintah, namun tanpa memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi kubu Jokowi untuk mendominasi. Isu reshuffle kabinet pun menjadi ajang pembuktian pengaruh di antara dua kekuatan politik tersebut.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar