Dalam posisi terpisah dari rekannya itulah, Mayor SS tiba-tiba didatangi dan ditangkap oleh seorang anggota Brimob. Terjadilah percakapan dengan nada tinggi.
"Nah di sini ada percakapan dari rekan Brimob dan Mayor SS. Percakapan itu yaitu, dari Brimob menyampaikan 'kamu itu ikut-ikutan demo?' dengan nada surat tinggi. Kemudian dijawab oleh Mayor, 'saya tidak ikut demo pak' Lanjut, 'kamu ngapain kamu disini kalau tidak ikut demo?' kata Mayor SS," ujar Freddy, menirukan kembali dialog tegang tersebut.
Meskipun Mayor SS telah menjelaskan bahwa dirinya adalah anggota BAIS yang sedang bertugas, anggota Brimob tersebut tidak langsung percaya.
Setelah Mayor SS menunjukkan Kartu Tanda Anggota (KTA) TNI, anggota Brimob itu lantas memfoto wajah dan KTA tersebut sebelum akhirnya melepaskannya.
Freddy menyayangkan foto inilah yang kemudian menyebar di media sosial dengan narasi hoaks bahwa TNI menjadi provokator aksi anarkis.
Sebelumnya, Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita juga telah merespons insiden ini.
Ia secara khusus menyoroti tindakan aparat yang membongkar identitas seorang intelijen yang sedang bertugas.
"Begitu ini ditangkap kemudian keluar seperti itu, harusnya yang menangkap itu tidak menyebarkan itu, karena kan intelijen," kata Tandyo kepada awak media di gedung DPR, Jakarta Pusat.
Tandyo menegaskan bahwa menyamar dan masuk ke dalam sebuah kelompok, termasuk kerumunan demonstran, adalah metode yang lumrah dalam dunia intelijen untuk menggali informasi.
"Saya sampaikan ya, namanya orang memberikan informasi itu kan kita harus masuk di dalam ya, itu kita ikut mereka, kegiatan mereka," kata Tandyo.
Sumber: Suara
Artikel Terkait
SP3 Eggi Sudjana & Damai Hari Lubis: Keadilan Restoratif atau Manipulasi Hukum?
Prodem Minta Polri Tetap di Bawah Presiden, Ini Alasan dan Kekhawatirannya
SP3 Eggi Sudjana Bermasalah Hukum: Pengamat Soroti Pelanggaran KUHAP & Syarat Restorative Justice
Khozinudin Tolak Damai dengan Jokowi: Ada Upaya Adu Domba di Kasus Ijazah Palsu