PARADAPOS.COM - Kementerian Keuangan Israel mengungkapkan dampak ekonomi yang sangat besar dari eskalasi konflik dengan Iran, dengan kerugian negara diperkirakan mencapai 3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 50 triliun per minggu. Dalam surat resmi yang dilaporkan beredar pada Kamis (5/3/2026), kementerian mendesak Komando Garda Depan untuk meninjau ulang pembatasan aktivitas ekonomi nasional yang diberlakukan pasca-serangan Israel dan AS ke Iran akhir Februari lalu, guna mencari titik keseimbangan antara keamanan dan stabilitas perekonomian.
Desakan untuk Meninjau Ulang Pembatasan
Surat yang ditujukan kepada Kepala Komando Garda Depan, Mayor Jenderal Shai Klapper, itu secara tegas mengakui pentingnya kebijakan pertahanan. Namun, di sisi lain, menutup perekonomian secara luas dinilai menimbulkan beban finansial yang semakin berat. Pemerintah pun didesak untuk membuka kembali usaha dan tempat kerja secara bertahap.
Dalam surat tersebut, Direktur Jenderal Kementerian Keuangan Israel, Ilan Rom, menyampaikan kekhawatirannya. "Tidak ada keraguan tentang perlunya mempertahankan kebijakan pertahanan yang disesuaikan dengan situasi keamanan, tetapi pada saat yang sama, menutup perekonomian secara luas akan menimbulkan biaya ekonomi yang besar," ujarnya.
Rom menegaskan bahwa setelah dua setengah tahun ekonomi menanggung beban yang berat, diperlukan solusi yang lebih berimbang. "Kita membutuhkan solusi yang mengatasi kebutuhan keamanan dalam negeri dan kebutuhan ekonomi, setelah dua setengah tahun ekonomi menanggung beban ekonomi yang berat akibat meningkatnya kebutuhan keamanan dan dampak perang," lanjutnya.
Dampak Langsung Pedoman Keamanan
Pembatasan ketat yang menjadi sorotan ini bermula tak lama setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Komando Pertahanan Dalam Negeri IDF langsung mengeluarkan pedoman nasional yang menghentikan hampir semua aktivitas publik. Semua pertemuan, kegiatan pendidikan, dan operasional tempat kerja non-esensial dilarang, dengan imbauan kuat untuk bekerja dari rumah. Pedoman yang awalnya bersifat sementara ini kemudian diperpanjang hingga Sabtu malam pada pekan yang sama.
Kebijakan inilah yang, menurut perhitungan Kementerian Keuangan, menjadi penyumbang utama kerugian miliaran dolar per minggu. Kerugian tersebut bersumber dari penutupan sekolah dan universitas, larangan operasi bisnis, serta mobilisasi tentara cadangan yang menarik tenaga kerja dari sektor produktif.
Usulan Skala Kewaspadaan Oranye
Sebagai jalan tengah, Ilan Rom secara khusus meminta Mayor Jenderal Klapper untuk menurunkan tingkat kewaspadaan nasional dari level merah ke level oranye. Pada level merah, hanya aktivitas yang dianggap penting saja yang diizinkan. Sementara, peringatan tingkat oranye memungkinkan kegiatan ekonomi dan tempat kerja untuk beroperasi dengan syarat ketat, yaitu harus berada di dekat ruang perlindungan atau memiliki akses cepat ke sana, meski lembaga pendidikan tetap harus ditutup.
Perubahan tingkat kewaspadaan ini diharapkan dapat sedikit menggerakkan roda perekonomian, mengurangi tekanan pada bisnis dan rumah tangga, tanpa serta-merta mengabaikan ancaman keamanan yang masih nyata. Desakan ini mencerminkan dilema klasik yang dihadapi negara dalam situasi konflik berkepanjangan: menjaga nyawa warga sekaligus mempertahankan denyut nadi perekonomian yang menjadi penopang hidup mereka.
Artikel Terkait
Iran Lancarkan Serangan Rudal dan Drone ke Empat Negara Teluk
Iran Siap Sambut Invasi Darat AS-Israel, Peringatkan Akan Jadi Bencana
Dunia Muslim Kecam Pernyataan Pejabat AS yang Sebut Konflik dengan Iran sebagai Perang Agama
Iran Klaim Serang Tel Aviv dan Bandara Ben Gurion dengan Rudal Khorramshahr-4