PARADAPOS.COM - Sebuah serangan udara yang menghantam sebuah sekolah dasar putri di Minab, Iran selatan, pada Sabtu (28/2/2026), memicu saling tuduh dan penyelidikan internasional. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyalahkan Iran atas insiden yang diklaim menewaskan lebih dari 150 orang—sebagian besar siswi—itu. Namun, baik Israel maupun AS secara resmi belum mengaku bertanggung jawab, sementara otoritas Iran justru menuding Washington sebagai dalang di balik tragedi tersebut.
Klaim Bertolak Belakang di Tengah Korban Jiwa
Dari atas pesawat Air Force One, Presiden Trump menyampaikan tuduhannya kepada awak media. Pernyataannya berusaha mengarahkan penyebab insiden pada kesalahan teknis pihak lain.
"Kami pikir itu dilakukan oleh Iran. Karena mereka sangat tidak akurat, seperti yang Anda ketahui, dengan amunisi mereka. Mereka sama sekali tidak akurat," ujarnya.
Sementara itu, di lapangan, situasinya masih gelap. Laporan independen mengenai jumlah korban dan detail kejadian sulit diverifikasi karena akses ke lokasi yang terbatas. Pejabat AS menyebut serangan itu masih dalam tahap penyelidikan mendalam, menambah nuansa kerumitan pada narasi yang berkembang.
Analisis Digital Pertanyakan Target dan Intelijen
Klaim awal yang beredar di beberapa platform media sosial, yang dikaitkan dengan pendukung Israel, menyebut lokasi yang diserang merupakan bagian dari pangkalan militer Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Klaim ini langsung dibantah oleh analisis investigasi digital yang cermat.
Dengan memeriksa citra satelit selama lebih dari satu dekade, video terbaru, serta dokumen publik, terungkap bahwa sekolah tersebut justru berada jauh dari lokasi militer setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir. Temuan ini tidak hanya membantah narasi awal, tetapi juga memunculkan pertanyaan kritis mengenai keakuratan informasi intelijen yang mungkin digunakan untuk melancarkan serangan, serta kemungkinan adanya target yang disengaja terhadap fasilitas pendidikan.
Sebagai bentuk balasan, IRGC mengaku telah melancarkan serangan drone dan rudal ke Pangkalan Udara Al-Dhafra milik AS di Uni Emirat Arab, yang mereka sebut digunakan untuk meluncurkan serangan terhadap Minab.
Profil Sekolah dan Keterkaitan dengan Militer
Investigasi lebih lanjut mengungkap kompleksitas status sekolah korban, Sekolah Shajareh Tayyebeh. Institusi ini merupakan bagian dari jaringan sekolah nirlaba yang secara struktural berafiliasi dengan Angkatan Laut IRGC. Sekolah-sekolah dalam jaringan ini utamanya ditujukan untuk memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak dari personel militer.
Bukti dari saluran komunikasi lokal menunjukkan prosedur penerimaan yang membedakan waktu pendaftaran antara anak anggota IRGC dan anak dari kalangan umum. Fakta ini menempatkan sekolah dalam area abu-abu antara fasilitas pendidikan sipil dan institusi yang terkait dengan lembaga militer, sebuah detail yang sering menjadi titik sengketa dalam analisis konflik modern.
Pentingnya Strategis Kota Minab
Pemilihan Minab sebagai target tidak terjadi secara acak. Kota ini terletak di Provinsi Hormozgan yang secara geostrategis sangat vital, menghadap langsung ke Selat Hormuz dan perairan Teluk. Lokasi ini menjadikannya pusat operasi utama bagi Angkatan Laut IRGC, khususnya untuk Brigade Rudal Asif yang bermarkas di kompleks militer Sayyid al-Shuhada.
Brigade ini dikenal menganut doktrin perang asimetris, mengandalkan armada kapal cepat, drone, dan rudal pantai yang dirancang untuk mengganggu lalu lintas maritim. Dengan demikian, kawasan sekitar Minab memang padat dengan aset militer sensitif, meski serangan yang terjadi justru mengenai bangunan sekolah yang letaknya terpisah.
Tragedi di Minab hingga kini masih menyisakan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Saling tuduh antara pihak-pihak yang bertikai terus berlanjut, sementara korban jiwa dari kalangan sipil, terutama anak-anak, menjadi harga paling mahal dalam konflik yang kompleks ini. Kebenaran seutuhnya masih menunggu penyelidikan yang lebih transparan dan independen.
Artikel Terkait
Iran Tetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Baru, AS-Israel Ancam Lanjutkan Serangan
Eskalasi Timur Tengah Picu Gelombang Panic Buying BBM di Berbagai Negara
Politikus Inggris Klaim Ada Penyensoran Besar atas Dampak Serangan Iran ke Israel
Pengaruh Kelompok Evangelis dalam Kebijakan Luar Negeri AS di Bawah Trump Terungkap