PARADAPOS.COM - Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait eskalasi ketegangan di Selat Hormuz dinilai menunjukkan sikap yang tidak konsisten. Analisis dari pengamat menyoroti bahwa perubahan sikap dari Washington, dari pernyataan tidak peduli hingga mengeluarkan ultimatum, mencerminkan tekanan besar yang dihadapi AS. Tekanan itu berasal dari risiko keterlibatan militer langsung yang tinggi serta ancaman guncangan ekonomi global, terutama pada harga energi, jika jalur pelayaran vital itu benar-benar terganggu.
Analisis atas Perubahan Sikap Washington
Dinamika pernyataan dari Gedung Putih dalam beberapa pekan terakhir menarik perhatian para analis kebijakan luar negeri. Sikap yang tampak berubah-ubah itu, menurut sejumlah pengamat, bukanlah sekadar taktik negosiasi, melainkan indikasi keraguan mendalam untuk bertindak unilateral. Amerika Serikat, dengan segala kekuatan militernya, tampak menghitung ulang setiap langkah dengan sangat hati-hati di kawasan yang rawan tersebut.
Komentar Pengamat: Antara Ancaman dan Realitas Medan
Pengamat Timur Tengah, Faisal Assegaf, memberikan pandangannya yang cukup tajam mengenai perkembangan ini. Menurutnya, fluktuasi sikap Trump berakar pada dua hal utama: ketidaktakutan Iran terhadap ancaman dan pertimbangan realistis atas risiko di lapangan.
“Ini bentuk kegalauan Trump, ternyata Iran tidak takut dengan ancaman Trump. Dan juga ini bentuk Trump juga pengecut,” ungkapnya dalam sebuah keterangan daring pada Senin, 23 Maret 2026.
Faisal menjelaskan bahwa rencana awal AS untuk mengerahkan kapal perangnya sendiri guna mengamankan Selat Hormuz akhirnya menemui jalan buntu. Rencana itu, tuturnya, mandek karena penilaian internal angkatan laut AS sendiri yang mempertimbangkan tingkat risiko yang tidak sepadan.
“Tapi ternyata angkatan laut AS sendiri tidak berani karena resikonya sangat tinggi kalau mereka ikut mengawal itu sendiri,” jelasnya.
Dilema Strategi dan Tanggapan Sekutu yang Lesu
Menyadari kesulitan untuk bergerak sendirian, strategi AS pun bergeser. Washington kemudian berupaya mengajak serta sekutu-sekutunya, terutama negara-negara Eropa dan anggota NATO, untuk membentuk semacam koalisi pengawalan. Namun, langkah diplomatik ini ternyata tidak serta-merta menuai respons yang hangat, apalagi komitmen yang tegas. Banyak sekutu tradisional AS tampak enggan terjerumus dalam konfrontasi baru yang berpotensi meluas.
Tekanan tambahan justru datang dari dalam negeri AS sendiri. Ancaman kenaikan harga minyak dunia dan bahan bakar minyak (BBM) domestik jika situasi di Selat Hormuz memburuk menjadi pertimbangan politik yang sangat sensitif, terlebih dalam iklim ekonomi yang tidak pasti.
Pernyataan 22 Negara dan Potensi Eskalasi
Di tengah kebimbangan AS, muncul deklarasi dari 22 negara yang menyatakan kesiapan mereka untuk menjaga keamanan di selat tersebut. Meski terdengar seperti sebuah solusi kolektif, Faisal Assegaf menyikapinya dengan skeptisisme yang wajar. Ia menilai komitmen tertulis masih perlu dibuktikan dengan aksi nyata di lapangan.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa keterlibatan banyak pihak justru dapat membuka kotak Pandora dengan konsekuensi yang tidak terprediksi.
“Nah, kalau memang benar itu yang mereka akan lakukan, komitmen itu mereka laksanakan nanti, artinya perang akan semakin berkobar, perang akan semakin tidak terkendali, dan itu akan melibatkan banyak negara,” tegasnya.
Peringatannya jelas: jika skenario intervensi militer multinasional benar-benar terjadi, konflik yang ada berpotensi meluas secara geografis dan semakin sulit untuk dicari jalan damainya. Situasi ini meninggalkan dunia internasional dalam keadaan waspada, menantikan langkah berikutnya dari berbagai pihak yang terlibat.
Artikel Terkait
Negara-Negara Arab Kirim Peringatan Terakhir ke Iran Atas Serangan ke Fasilitas AS
Joe Rogan Beri Ruang Teori Konspirasi Kematian Netanyahu di Podcast
Trump Beri Ultimatum 48 Jam ke Iran untuk Buka Selat Hormuz
Rudal Iran Jatuh Dekat Kompleks Al-Aqsa di Hari Idulfitri