PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka akses navigasi di Selat Hormuz. Ultimatum yang disampaikan melalui media sosial pada Minggu, 5 April 2026, ini memperuncing ketegangan di kawasan yang sudah memanas sejak serangan gabungan AS-Israel akhir Februari lalu. Ancaman ini berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global yang sangat bergantung pada jalur pelayaran strategis tersebut.
Ancaman Terbuka di Media Sosial
Dalam sebuah unggahan di platform Truth Social, Trump secara terbuka memberi peringatan keras kepada pemerintah Iran. Pernyataannya merujuk pada tenggat waktu negosiasi yang sebelumnya telah diperpanjang.
"Ingat ketika saya memberi Iran waktu sepuluh hari untuk MEMBUAT KESEPAKATAN atau MEMBUKA SELAT HORMUZ? Waktu hampir habis, 48 jam lagi sebelum neraka menimpa mereka," tulisnya.
Ultimatum ini muncul setelah pemerintahnya, pada 26 Maret, memberikan kelonggaran waktu 10 hari. Kelonggaran itu diberikan menyusul langkah Iran yang mengizinkan sepuluh kapal tanker minyak berbendera Pakistan untuk melintas, yang oleh Washington dianggap sebagai sinyal positif.
Latar Belakang Ketegangan yang Memanas
Situasi di Timur Tengah memang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pemicu utamanya adalah ofensif militer gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan skala besar itu dilaporkan menelan korban jiwa yang signifikan, mencapai lebih dari 1.340 orang, dan turut merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai bentuk pembalasan, Iran tidak tinggal diam. Teheran meluncurkan serangan drone dan rudal balasan ke berbagai target, termasuk wilayah Israel, Yordania, Irak, serta beberapa negara Teluk yang diketahui menjadi lokasi pangkalan militer AS. Langkah ini semakin memperumit peta konflik regional.
Dampak Terhadap Selat Hormuz dan Pasar Energi
Di tengah eskalasi ini, Iran mengambil langkah tegas dengan membatasi pergerakan kapal di Selat Hormuz. Selat sempit itu merupakan jalur vital bagi pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Pembatasan yang diterapkan Teheran secara langsung memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan dan gejolak harga energi di pasar global.
Ultimatum 48 jam dari Gedung Putih kini menambah tekanan baru. Dunia internasional, khususnya negara-negara pengimpor energi, tentu mengamati dengan cermat perkembangan ini, mengingat potensi dampak luas yang bisa ditimbulkan jika krisis tidak segera menemui jalan diplomatik.
Artikel Terkait
AS Kehilangan Tujuh Pesawat Berawak dalam Konflik Satu Bulan dengan Iran
Presiden Prabowo Kecam Serangan yang Tewaskan Tiga Prajurit TNI di Lebanon
Analis Sejarah Peringatkan Risiko Eskalasi Konflik Timur Tengah ke Skala Global
Media Iran Klaim UEA Terlibat Konflik Bersenjata Melawan Teheran