Operasi Rio Tewaskan 64 Orang: Geng Gunakan Drone Senjata & Dituding Narkoterorisme

- Rabu, 29 Oktober 2025 | 00:25 WIB
Operasi Rio Tewaskan 64 Orang: Geng Gunakan Drone Senjata & Dituding Narkoterorisme
64 Tewas dalam Penggerebekan Besar di Rio de Janeiro, Brasil - Operasi Tangani Narkoterorisme

64 Tewas dalam Penggerebekan Besar di Rio de Janeiro, Brasil - Operasi Tangani Narkoterorisme

Setidaknya 64 orang tewas, termasuk sejumlah polisi, dalam sebuah penggerebekan besar-besaran yang menargetkan jaringan kejahatan terorganisir di Rio de Janeiro, Brasil. Peristiwa ini terjadi pada Selasa, 28 Oktober 2025.

Gubernur Rio de Janeiro, Claudio Castro, mengonfirmasi bahwa operasi keamanan ini masih berlangsung dan dikhawatirkan jumlah korban tewas bisa bertambah. Castro menegaskan langkah ini sebagai upaya strategis untuk menghentikan ekspansi wilayah kelompok kriminal Comando Vermelho. "Ini bukan lagi kejahatan biasa, melainkan narkoterorisme," tegas Castro.

Pemerintah daerah melaporkan bahwa operasi penegakan hukum ini telah direncanakan secara matang selama lebih dari satu tahun. Hasil sementara dari operasi ini adalah penyitaan sedikitnya 42 pucuk senapan dan penangkapan 81 orang yang diduga terlibat dalam jaringan kriminal.

Aksi penegakan hukum besar ini terjadi hanya seminggu sebelum Rio de Janeiro dijadwalkan menjadi tuan rumah Konferensi Iklim C40, sebuah pertemuan penting yang akan dihadiri oleh para wali kota dari berbagai kota di dunia.

Suasana Mencekam dan Penggunaan Drone Berseniata

Media lokal melaporkan suasana mencekam yang menyelimuti favela Alemão, yang menjadi salah satu lokasi utama penggerebekan. Video dari Reuters menunjukkan kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi di langit wilayah tersebut. Sementara itu, sejumlah foto yang beredar memperlihatkan mobil-mobil terbakar yang diduga sengaja dibakar warga untuk membangun barikade penghalang.

Pemerintah secara tegas menunjuk kelompok Comando Vermelho sebagai target utama operasi ini. Comando Vermelho dikenal sebagai salah satu jaringan kriminal tertua di Brasil, yang awalnya dibentuk oleh kelompok tahanan berhaluan kiri pada era kediktatoran militer. Saat ini, organisasi ini lebih dikenal luas karena aktivitas perdagangan narkoba internasional dan aksi pemerasan bersenjata.

Yang menjadi perhatian khusus dalam operasi ini adalah klaim pihak berwenang bahwa geng tersebut menggunakan drone yang dipersenjatai untuk menyerang petugas. Pemerintah Rio, melalui platform X, menyatakan, "Sebagai balasan, para penjahat menggunakan pesawat tanpa awak untuk menyerang polisi di Kompleks Penha." Pernyataan tersebut disertai dengan pembagian video yang menunjukkan sebuah drone sedang menembakkan proyektil.

Sejarah Penggerebekan dan Kritik HAM

Meskipun penggerebekan berskala besar di kawasan favela bukanlah hal yang baru di Brasil, operasi semacam ini kerap menuai kritik tajam dari berbagai kelompok pegiat hak asasi manusia (HAM). Sebagai perbandingan, operasi serupa pada tahun 2021 di wilayah Jacarezinho menewaskan 25 orang dan memicu respons dari Mahkamah Agung, yang sempat melarang pelaksanaan razia selama masa pandemi, kecuali dalam situasi yang benar-benar luar biasa.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar