Rahasia Indonesia Jadi Negara Paling Bahagia di Dunia: Peran Kunci Keimanan
Indonesia mengejutkan dunia dengan menduduki peringkat pertama sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi secara global. Temuan dari Global Flourishing Study (GFS) kolaborasi Harvard University, Baylor University, dan Gallup ini mengungguli hampir 200 negara lain.
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, memberikan analisis mendalam. Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto wajar terharu dengan hasil riset ini, namun kebahagiaan rakyat Indonesia tidak bisa disederhanakan hanya karena faktor kesejahteraan ekonomi.
Kebahagiaan Duniawi vs Kebahagiaan Berbasis Iman
Jamiluddin menjelaskan, asumsi bahwa kesejahteraan materi adalah satu-satunya sumber kebahagiaan hanya relevan dari sudut pandang duniawi semata. "Namun rakyat suatu negara, termasuk Indonesia, ada juga yang mencari kebahagiaan di akhirat dan keseimbangan dunia akhirat," ujarnya.
Bagi kelompok yang memprioritaskan kebahagiaan akhirat, keimanan menjadi sumber kebahagiaan utama. Inilah yang menjelaskan mengapa meski secara ekonomi belum mencapai tingkat sejahtera tertentu, banyak masyarakat Indonesia yang tetap merasa bahagia secara tulus.
Prinsip serupa berlaku untuk kelompok yang mengejar keseimbangan hidup dunia dan akhirat. Keyakinan akan kehidupan setelah dunia fana memberikan fondasi ketenangan dan kebahagiaan, melampaui ukuran-ukuran materi.
Pernyataan Presiden Prabowo Soal Kebahagiaan Indonesia
Presiden Prabowo Subianto sendiri mengaku terharu dengan hasil survei tersebut. Dalam pidatonya di acara Natal Nasional 2025, Prabowo menyoroti posisi istimewa Indonesia. "Negara yang paling nomor satu di dunia sekarang, rakyat yang mengatakan bahagia adalah bangsa Indonesia. Ini mengharukan bagi saya," ujar Prabowo.
Kesimpulannya, temuan riset global ini mengungkap kekuatan unik bangsa Indonesia. Kebahagiaan masyarakat Indonesia bersumber dari fondasi keimanan dan spiritualitas yang kuat, yang mampu memberikan ketenangan dan kepuasan hidup melampaui capaian-capaian ekonomi semata. Inilah aset sosial budaya yang tak ternilai dalam membangun ketahanan dan optimisme bangsa.
Artikel Terkait
Pembina Pramuka di Bekasi Dilaporkan Perkosa Siswi Berulang Kali
Pria di Gowa Ditangkap Usai Bersembunyi di Plafon, Diduga Perkosa Mertua Sendiri
Bareskrim Tetapkan Bandar Narkoba Ko Erwin sebagai DPO Terkait Kasus Suap Eks Kapolres Bima
Mahasiswi UIN Suska Riau Jadi Korban Penganiayaan Berat oleh Rekan Kampus