Eggi Sudjana Beri Ultimatum Hukum ke Pandji Pragiwaksono Soal Materi Komedi

- Kamis, 19 Februari 2026 | 01:50 WIB
Eggi Sudjana Beri Ultimatum Hukum ke Pandji Pragiwaksono Soal Materi Komedi

PARADAPOS.COM - Aktivis hukum senior Eggi Sudjana memberikan ultimatum tegas kepada komika Pandji Pragiwaksono terkait materi komedi yang dinilai melecehkan ajaran Islam. Dalam konferensi pers di depan gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (18/2/2026), Eggi menuntut Pandji segera meminta maaf secara terbuka atau akan menghadapi tekanan hukum yang berkelanjutan. Pernyataan keras ini disampaikan menjelang bulan Ramadan, di tengah klarifikasi posisinya dalam organisasi dan kritiknya terhadap sejumlah isu nasional.

Kecaman Terhadap Candaan Ibadah

Inti kemarahan Eggi Sudjana berpusat pada satu segmen pertunjukan Pandji Pragiwaksono yang dianggapnya menyentuh ranah sakral ibadah umat Muslim. Dengan nada yang tegas dan penuh keyakinan, sang aktivis yang telah lama berkecimpung dalam pembelaan hukum kasus-kasus bernuansa agama itu menilai lelucon tentang pengaturan saf salat telah melampaui batas toleransi.

Dengan suara lantang di hadapan sejumlah awak media, Eggi menyampaikan kekecewaannya. "Kita ini sama-sama umat Islam. Kenapa Anda begitu terkesan umat Islam kok dienyek-enyek (dihina) kayak begitu? Ngatur saf salat kan bukan untuk di pesawat, kok diputar-putar? Jangan!" tegasnya.

Peringatan Terakhir dan Ancaman Hukum

Eggi mengungkapkan bahwa laporan resmi terhadap Pandji sebenarnya telah diajukan oleh Komando Perelaporan Bela Islam (Korlabi) sekitar sebulan sebelumnya. Namun, karena belum melihat tanda-tanda penyesalan dari pihak komika, ia merasa perlu menyampaikan peringatan terakhir. Tekadnya untuk menempuh jalur hukum terasa sangat kuat.

"Saya ingatkan, kau datanglah ke polisi, minta maaf buat umat. Kalau tidak, kami akan tekan terus karena ini hak hukum kami sebagai umat. Sebelum (hal buruk) terjadi, Panji tolong minta maaf di depan polisi," tambahnya dengan semangat.

Menurut pengakuannya, sikap Pandji justru dianggap tidak menunjukkan penyesalan. “Sudah diberi waktu. Dia bilang, ‘Saya salah apa?’ Kalau begitu, tinggal polisi bertindak,” ujarnya, menggambarkan kebuntuan dalam komunikasi tersebut.

Status Organisasi dan Posisi Baru

Selain menyoroti kasus Pandji, Eggi juga menggunakan kesempatan itu untuk meluruskan kabar mengenai statusnya di Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA). Ia menegaskan bahwa tidak terjadi pemecatan, melainkan pembekuan kepengurusan untuk meredam konflik internal. Proses serah terima mandat secara resmi telah dilakukannya kepada pendiri TPUA, Habib Rizieq Shihab, pada pertengahan Februari 2025.

Atas rekomendasi Habib Rizieq, Eggi kini beralih peran. "TPUA tamat, jangan singgung-singgung lagi. Saya bukan lagi ketua TPUA. Mandat sudah saya laksanakan," tuturnya. Saat ini, ia resmi bergabung dan menjadi pembina di Korlabi yang dipimpin Damai Hari Lubis.

Sindiran dan Kritik yang Meluas

Perbincangan di halaman Bareskrim itu tidak hanya terpaku pada satu isu. Dengan gaya bicaranya yang khas, Eggi juga menyelipkan sindiran pedas terhadap mantan menteri Roy Suryo dan Ahmad Khozinudin yang tengah berseteru secara hukum. Ia menilai Roy kini merasakan sendiri proses hukum yang dulu pernah dicemoohnya.

Lebih jauh, perhatiannya juga tertuju pada isu internasional. Eggi menyampaikan kritik langsung kepada Presiden Prabowo Subianto, memprotes wacana kerja sama dengan mantan Presiden AS Donald Trump. Dengan semangat yang berapi-api, ia mendorong langkah yang lebih nyata dalam mendukung Palestina.

"Kalau perlu berat, kami bisa buka milisi. Saya buka pendaftaran jihad ke Palestina. Jangan banyak omdo di medsos," serunya, menekankan pentingnya aksi konkret di luar diplomasi.

Pesan Damai di Tengah Ultimatum

Meski dipenuhi pernyataan-pernyataan keras dan ancaman hukum, Eggi Sudjana menutup sesi wawancara itu dengan pesan rekonsiliasi menyambut Ramadan. Ia menyatakan telah memaafkan secara pribadi semua lawan hukumnya demi menyambut bulan suci dengan hati bersih. Namun, ia dengan jelas membedakan antara maaf secara moral dan proses hukum.

"Secara umum perilaku mereka saya maafkan dengan moral Islam, tapi hukum jalan terus. Lawanlah laporan saya ini, jangan pengecut," pungkasnya, menegaskan bahwa jalur hukum yang telah ditempuh akan tetap berlanjut sesuai prosedur.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar