PARADAPOS.COM - Ipda Purnomo (46), seorang anggota kepolisian dari Lamongan, Jawa Timur, kembali menarik perhatian publik setelah serangkaian aksi sosialnya viral di media sosial. Polisi yang akrab disapa Pak Pur ini diketahui mengelola Yayasan Berkas Bersinar Abadi yang merawat ratusan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Baru-baru ini, ia menyerahkan bantuan sebesar Rp 11,7 juta kepada 39 guru PPPK di Tuban yang kontrak kerjanya tidak diperpanjang, serta membantu seorang ibu pemulung di Lamongan. Aksi-aksi kemanusiaan ini memunculkan pertanyaan mengenai motivasi dan sumber dana yang digunakannya.
Awal Mula Kepedulian terhadap ODGJ
Perjalanan Ipda Purnomo dalam dunia sosial berawal dari pengalaman lapangan saat bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di Kelurahan Banaran, Polsek Babat. Rasa iba melihat kondisi ODGJ yang terlantar di jalanan mendorongnya untuk mengambil tindakan.
"Awalnya itu, saat saya masih dinas di Polsek Babat, dan jadi Bhabinkamtibmas di Kelurahan Banaran. Melihat ada ODGJ keliaran jadi kasihan, makanya muncul inisiatif menolongnya," tuturnya, Minggu (1/2/2026).
Inisiatif sederhana itu ternyata menjadi awal dari komitmen panjang. Dukungan penuh dari sang istri, Lilik Ika Wahyuni (45), menjadi pilar penting. Bahkan, sang istri turun tangan langsung membantu merawat ODGJ yang dibawa pulang.
"Bulan Maret besok itu, tahun kesembilan (menekuni menolong ODGJ), yayasan masuk tahun kelima. Istri mendukung, saat awal itu sampai ikut memandikan ODGJ yang saya bawa pulang ke rumah," kenang Pak Pur.
Dari Uang Pribadi Hingga Mendirikan Yayasan
Pada fase awal, Ipda Purnomo mengandalkan tunjangan pribadinya sebagai anggota polisi untuk membiayai kegiatan sosialnya. Tantangan tidak hanya datang dari segi finansial, tetapi juga dari respons lingkungan sekitar yang kerap resah dengan kehadiran ODGJ yang dirawatnya. Upaya merujuk ODGJ ke Rumah Sakit Jiwa sempat terkendala administrasi.
"Oleh pihak rumah sakit ditolak, karena enggak ada KTP keluarga. Kemudian saya ditawari, agar ditaruh di yayasan swasta dengan biaya Rp 3,5 juta per bulan. Saya langsung dimarahi sama istri," jelasnya mengenai pengalaman yang justru menjadi titik balik.
Dorongan dari istrinya itulah yang akhirnya mewujudkan niat untuk membangun fasilitas mandiri. Ipda Purnomo kemudian mengambil langkah formal dengan mendirikan Yayasan Berkas Sinar Abadi, setelah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lamongan, termasuk Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial.
"Kemudian, istri usul kepada saya agar bikin sendiri (mendirikan yayasan). Awalnya itu disuruh ikut bernaung di bawah Dinas Kesehatan karena merawat ODGJ butuh obat. Tapi, karena tidak sekadar obat dan butuh keperluan lain yang dibutuhkan ODGJ, maka disarankan untuk ikut Dinas Sosial," ujarnya memaparkan prosesnya.
Mengelola Bantuan untuk Ratusan ODGJ
Kini, yayasan yang dikelolanya menampung hingga 395 ODGJ. Untuk menutupi biaya operasional yang tidak kecil, selain mengandalkan bantuan dari berbagai pihak dan dana pribadi, Ipda Purnomo juga mendapatkan pemasukan tambahan dari konten YouTube yang dibuatnya. Di balik segala kesulitan, kepuasan batin menjadi pendorong utamanya.
"Saya itu sedih namun bahagia. Sedih ketika melihat ODGJ dipasung seperti di Blitar, yang hendak saya ajak tapi ibunya menolak. Namun bahagia, ketika anak itu akhirnya sembuh dan memeluk ibunya saat dijemput di Lamongan," ungkapnya dengan haru.
Bantuan Langsung untuk Guru dan Warga Terdampak
Kepedulian Ipda Purnomo tidak berhenti pada ODGJ. Pada Rabu (18/2/2026), ia tergerak membantu 39 guru PPPK di Tuban yang mengalami pemutusan kontrak kerja. Bantuan tunai sebesar Rp 11,7 juta diserahkan sebagai bentuk empati dan dukungan moral, khususnya dalam menyambut bulan Ramadan.
"Semoga dengan bantuan ini bisa memberikan keringanan kepada mereka. Dan bisa untuk membeli kebutuhan masuk bulan puasa ini," kata Purnomo. "Alhamdulillah hari ini saya serahkan apresiasi ke pada 39 guru yang tidak diperpanjang SK mengajarnya. Semoga bantuan ini bisa sedikit meringankan beban dan menjadi penyemangat bagi para guru untuk terus berkarya," lanjutnya.
Selain itu, dalam kesempatan terpisah, naluri sosialnya kembali tergerak saat melihat seorang pemulung bernama Muntama (56) warga Desa Suci, Lamongan. Tanpa pikir panjang, ia mengantarkan ibu tersebut pulang dan memberikan bantuan keuangan.
"Saya terenyuh dan saya beri Rp 1 juta untuk belanja keperluan selama Ramadan," kata Purnomo mengenai pertemuan spontan yang penuh makna itu.
Melalui aksi-aksi nyata yang tercatat dalam hampir satu dekade terakhir, Ipda Purnomo menunjukkan bahwa kepedulian sosial dapat diwujudkan dengan ketekunan, dukungan keluarga, dan pengelolaan yang bertanggung jawab, meski dengan sumber daya yang terbatas.
Artikel Terkait
Bocah 12 Tahun di Sukabumi Tewas Usai Video Luka Bakar Viral, Polisi Tunggu Hasil Autopsi
Anggota Brimob Ditahan Diduga Aniaya Siswa MTs Hingga Tewas di Tual
Pakar Hukum Halal Nilai Pengecualian Sertifikasi untuk Produk AS Berpotensi Langgar UU
Bareskrim Sita Belasan Kilogram Emas Batangan di Rumah Pemilik Toko Emas Semar