PARADAPOS.COM - Ulama kharismatik Buya Yahya menyerukan persatuan umat Islam di tengah eskalasi perang di Timur Tengah, menegaskan bahwa perbedaan sekte Sunni dan Syiah tidak relevan dalam menghadapi musuh bersama, Israel. Seruan ini disampaikan melalui akun Instagram resminya pada Kamis (5/3/2026), sebagai respons terhadap maraknya perdebatan sektarian di media sosial Indonesia pasca gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara Sabtu (28/2/2026). Buya Yahya menekankan bahwa dukungan harus diberikan kepada siapa pun yang melawan penjajahan dan kebiadaban Zionis Israel, tanpa memandang latar belakang.
Seruan Persatuan di Tengah Konflik
Dalam pesannya yang tegas, KH Yahya Zainul Ma’rif atau Buya Yahya, pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, mengingatkan bahwa momentum saat ini adalah untuk bersatu melawan kezaliman, bukan untuk memperuncing perbedaan internal. Ia melihat polemik Sunni-Syiah yang ramai di dunia maya justru mengaburkan fokus utama perlawanan terhadap Israel.
"Hari ini, bukan waktunya kita bicara itu (Sunni-Syiah). Selagi untuk menghancurkan kezaliman kepada kemanusiaan, mereka adalah pejuang dunia," tegasnya.
Pernyataan ini sekaligus menjawab kegelisahan publik mengenai hukum mendukung balasan militer Iran. Buya Yahya memperluas cakupan dukungan itu, menegaskan bahwa perlawanan terhadap Israel adalah isu kemanusiaan yang melampaui batas negara, agama, maupun sekte.
"Apakah nanti muncul orang dari Iran, atau nanti muncul dari Inggris, atau mungkin dari China. Siapa pun yang menyerang Israel, harus kita dukung. Israel adalah musuh kita bersama, dia telah menodai kemanusiaan," sambungnya.
Eskalasi yang Memicu Polemik
Latar belakang pernyataan Buya Yahya adalah situasi yang sangat tegang di kawasan Timur Tengah. Gugurnya Ayatollah Khamenei beserta sejumlah petinggi lainnya memicu respons keras Iran, yang meluncurkan serangan balasan langsung ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di beberapa negara Arab. Ironisnya, serangan ke pangkalan AS di negara-negara Teluk yang mayoritas Sunni itu justru memantik gelombang sentimen sektarian di ruang digital Indonesia. Sebagian warganet mempertanyakan kesungguhan Iran membela Palestina dan menolak menyebut Khamenei sebagai syuhada karena perbedaan aliran.
Mengoreksi Narasi yang Menyesatkan
Narasi yang mempertentangkan Iran dengan perjuangan Palestina ini, menurut banyak pengamat konflik regional, bertolak belakang dengan fakta di lapangan. Selama beberapa dekade, Iran secara konsisten memberikan dukungan material dan strategis yang signifikan bagi kelompok perlawanan di Gaza, termasuk Hamas dan Brigade Al-Qassam. Dukungan ini mencakup persenjataan, pendanaan, dan transfer teknologi yang menjadi tulang punggung kemampuan tempur mereka. Dengan kata lain, kontribusi Iran terhadap perlawanan Palestina adalah fakta yang tak terbantahkan.
Oleh karena itu, Buya Yahya mengingatkan agar umat tidak terjebak dalam disinformasi yang dapat memecah belah dan pada akhirnya menguntungkan pihak penjajah.
"Kita sudah terlambat bersama-sama meyakini bahwa Israel adalah musuh kita bersama. Jangan sampai kita kehilangan fokus pada musuh kemanusiaan yang sebenarnya," pungkasnya menutup pernyataannya.
Artikel Terkait
Polisi Bantah Surat Permintaan THR ke Pengusaha Truk di Tanjung Priok Palsu
Polisi Tangkap Pengedar Sabu di Kendari Saat Akan Open BO di Kamar Kos
Laporan Ungkap Komandan AS Bingkai Operasi Militer sebagai Rencana Suci Tuhan
Bayi Ditinggalkan dengan Surat Pilu dari Kakak Berusia 12 Tahun di Pejaten