Nusantara62 – Berikut lanjutan isi lengkap novel Surapati karya Abdul Muis:
,,Baiklah kita bersumpah," kata Wirajuda.
,,Berdjandji sama dengan bersumpah !" sahut Si Untung.
Baca Juga: Apa Kepanjangan YKK yang Kerap Ditemui di Resleting Celana? Ini Arti dan Sejarahnya
,,Barang siapa jang melanggar djandji itu, boleh kita hukum. Dengan kata semupakat djandji itu boleh diubah, artinja, djika buat sementara waktu, atau buat selama-lamanja, guna keuntungan kita sendiri, permusuhan dengan Kumpeni itu harus kita perhentikan, bolehlah kita memperhentikannja. Asal keputusan diambil dengan kata semupakat."
,,Baik!" kata Wirajuda.
„Tapi saja jakin, djangankan permusuhan itu hendak diperhatikan, makin hari ia akan makin mendalam karena kemauan kita dengan Kumpeni adalah bertentangan."
Baca Juga: Asal Usul Orang Batak, Penelusuran DNA, Ternyata dari Afrika
Dalam perundingan itu Si Untung diakui mendjadi pemimpin, Wirajuda mendjadi wakilnja, sedang Kijai Ebun diakui mendjadi orang tua jang memberi nasihat pada tiap-tiap ada kesulitan.
Rombongan itu meneruskan perdjalanannja masuk rimba keluar rimba.
Djika lapar, mereka masuk kampung, lalu meminta makan.
Baca Juga: Jumlah Gedung Pencakar Langit Jakarta Singkirkan Singapura, Bangkok, dan Seoul, Ini Faktanya
Melihat pasukan itu, lengkap pula dengan alat sendjatanja, maka tak adalah orang jang berani bertangguh memberikan sesuatu apa jang dimintanja.
Achirnja Si Untung dengan laskarnja telah ditakuti orang dimana-mana, dan diberi nama penjamun jang mengantjam keamanan dikampung- kampung.
Artikel asli: nusantara62.com
Artikel Terkait
Video Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri Picu Perdebatan Norma di Media Sosial
Pemuda Tewas Dibunuh di Kamar Penginapan Medan, Jenazah Dibuang ke Sungai
Polisi Usut Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS, DPR Desak Penanganan sebagai Percobaan Pembunuhan
Menteri Keuangan Buka Opsi Naikkan Batas Defisit APBN di Atas 3 Persen