Sudan di Ambang Kelaparan Massal Usai 1.000 Hari Konflik

- Senin, 09 Februari 2026 | 02:50 WIB
Sudan di Ambang Kelaparan Massal Usai 1.000 Hari Konflik

PARADAPOS.COM - Sudan tengah menghadapi krisis kemanusiaan terparah di dunia, dipicu oleh konflik bersenjata yang telah berlangsung lebih dari seribu hari. Pertempuran yang tak kunjung reda telah memaksa jutaan warga mengungsi, memutus akses terhadap layanan dasar, dan membawa negara itu ke ambang kelaparan massal. Situasi ini paling keras dirasakan oleh kelompok rentan, termasuk perempuan dan anak-anak, di tengah lumpuhnya sistem pendukung hidup.

Dampak Luas dan Ancaman Kelaparan

Konflik yang berkepanjangan ini nyaris melumpuhkan seluruh infrastruktur vital. Laporan terbaru menunjukkan hampir 34 juta penduduk Sudan—atau lebih dari dua pertiga populasi—membutuhkan bantuan kemanusiaan segera untuk bertahan hidup. Di antara mereka, lebih dari tujuh juta adalah perempuan dan anak perempuan dalam usia reproduksi, yang menghadapi risiko ganda berupa kekurangan pangan dan ancaman terhadap keselamatan serta kesehatan mereka. Pertempuran sporadis terus mengganggu distribusi bantuan, membuat upaya penyelamatan semakin sulit.

Episentrum Baru di Kordofan

Sementara situasi kritis terjadi di berbagai penjuru Sudan, wilayah Kordofan belakangan menjadi episentrum kekerasan terbaru. Warga sipil yang terjebak di sana menggambarkan kondisi yang sangat memprihatinkan: pasokan makanan menipis drastis, sementara layanan kesehatan hampir mustahil diakses. Sejak akhir Oktober tahun lalu, gelombang pengungsian besar-besaran telah tercatat, dengan lebih dari 88.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Banyak pengungsi tiba di kamp-kamp darurat dengan tangan kosong, setelah melakukan perjalanan berbahaya melintasi daerah konflik. Mereka kini bertahan di tempat penampungan yang sesak dengan dukungan logistik yang sangat terbatas, menunggu bantuan yang belum pasti kedatangannya.

Upaya Darurat dan Seruan Akses

Menanggapi keadaan darurat ini, badan-badan kemanusiaan berupaya keras memberikan respons. UNFPA, salah satu lembaga PBB yang fokus pada populasi, telah mengerahkan klinik keliling di daerah seperti Gedaref untuk menyediakan layanan kesehatan mendesak dan dukungan khusus bagi penyintas kekerasan berbasis gender.

Dalam pernyataannya, perwakilan lembaga tersebut mendesak semua pihak yang bertikai. "Kami mendesak akses kemanusiaan tanpa hambatan dan perlindungan bagi warga sipil, serta tenaga kesehatan di tengah krisis yang terus memburuk," tegasnya.

Seruan ini disampaikan dalam situasi di mana kekerasan terus meningkat dan ruang aman bagi pekerja kemanusiaan maupun warga sipil kian menyempit. Tanpa gencatan senjata yang berkelanjutan dan jalur bantuan yang aman, para analis memperingatkan bahwa bencana kelaparan skala penuh di Sudan mungkin tidak terelakkan lagi.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar