Iran Buka Pintu Dialog Nuklir dengan AS, Meski Diwarnai Ketidakpercayaan

- Selasa, 10 Februari 2026 | 23:25 WIB
Iran Buka Pintu Dialog Nuklir dengan AS, Meski Diwarnai Ketidakpercayaan

PARADAPOS.COM - Pemerintah Iran menyatakan tetap membuka pintu dialog dengan Amerika Serikat terkait perjanjian nuklir, meski mengakui masih ada rasa tidak percaya yang mendalam terhadap Washington. Pernyataan ini disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, seusai putaran perundingan tidak langsung di Oman yang berakhir pada Jumat lalu. Dalam pertemuan dengan media di Jakarta, Selasa (10/2/2026), Boroujerdi menegaskan komitmen Iran pada jalur diplomasi, namun juga menyoroti kewaspadaan tinggi yang dipegang negaranya.

Dialog Terus Berjalan di Tengah Ketidakpercayaan

Di tengah suhu politik yang tetap tegang, Iran memilih untuk tetap melanjutkan komunikasi dengan pihak Amerika. Sikap ini menunjukkan prioritas Teheran untuk menyelesaikan sengketa nuklir melalui meja perundingan, sekalipun beban sejarah menjadi penghalang kepercayaan yang signifikan. Upaya diplomasi ini dianggap sebagai langkah penting untuk mencegah eskalasi yang tidak diinginkan di kawasan Timur Tengah yang sudah rentan.

Dubes Boroujerdi, dalam penjelasannya, secara gamblang mengungkapkan dilema yang dihadapi Iran. "Ya, kami sedang berusaha berbicara dengan Amerika Serikat. Tapi kami tidak mempercayai mereka," tuturnya.

Luka Masa Lalu Jadi Dasar Kewaspadaan

Kewaspadaan Iran tidak muncul tanpa sebab. Boroujerdi mengingatkan bahwa pengalaman pahit dalam perundingan sebelumnya menjadi pelajaran berharga. Menurutnya, di tengah proses diplomasi yang sedang berlangsung, Iran justru pernah menjadi sasaran serangan. Pengalaman ini membentuk pendekatan Teheran yang kini menggabungkan diplomasi dengan kesiapan siaga.

Ia menjelaskan lebih lanjut, "Terakhir kali kami bernegosiasi, di tengah-tengah perundingan mereka justru menyerang Iran. Karena itu, kali ini kami tetap bernegosiasi, tetapi juga bersiap menghadapi segala kemungkinan."

Komitmen pada Perdamaian dengan Kekuatan Pertahanan

Di balik nada tegas dan kewaspadaannya, Boroujerdi menekankan bahwa tujuan utama Iran adalah perdamaian. Ia menyampaikan harapan agar perundingan kali ini bisa berlangsung dengan kesungguhan dan niat membangun dari semua pihak. Pesan ini mencerminkan keinginan untuk stabilitas regional yang telah lama diguncang ketegangan.

"Kami berharap mereka sungguh-sungguh dalam bernegosiasi. Jika itu terjadi, kami tentu sangat senang. Kami tidak menyukai perang. Kami menginginkan perdamaian dan keamanan di kawasan," tegas diplomat senior itu.

Namun, komitmen pada perdamaian itu dibarengi dengan pernyataan yang jelas tentang kemampuan dan kesiapan pertahanan. "Kami siap menghadapi segala bentuk serangan. Kami mampu membela diri. Kami kuat, tetapi kami tidak ingin berperang dengan siapa pun," tambahnya, menegaskan posisi Iran yang tidak ingin dicari-cari masalah, tetapi juga tidak takut menghadapi ancaman.

Proses Diplomasi Dinilai Masih Berpeluang

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah memberikan sinyal yang cukup positif dengan menyebut putaran perundingan di Oman sebagai "awal yang baik". Pernyataan ini mengindikasikan bahwa meski jalan masih panjang dan penuh tantangan, setidaknya ada kemauan dari kedua belah pihak untuk tetap berkomunikasi. Araghchi menegaskan bahwa dialog berpeluang dilanjutkan jika suasana saling curiga dapat dikikis.

Lebih lanjut diungkapkan bahwa telah ada kesepakatan untuk meneruskan proses ini, dengan kemungkinan pertemuan lanjutan kembali digelar di Muscat, Oman, pada waktu yang akan datang. Hal ini setidaknya memberikan secercah harapan bahwa kanal diplomasi masih terbuka, meski langkah-langkah ke depan akan sangat bergantung pada tindakan nyata dan itikad baik masing-masing pihak.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar