PARADAPOS.COM - Tradisi membagikan gulai kambing sebagai takjil buka puasa kembali berlangsung di Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, pada Kamis (19 Februari 2026) yang merupakan hari kedua Ramadan 1447 Hijriah. Sebanyak 1.500 porsi sajian khas tersebut disiapkan untuk dibagikan kepada jemaah, melanjutkan kebiasaan turun-temurun yang telah berakar sejak puluhan tahun lalu.
Warisan Rasa Sejak Masa Kecil
Agus Suratin, Koordinator Takjil Masjid Gedhe Kauman, menjadi saksi hidup kelanggengan tradisi ini. Lelaki kelahiran 1956 itu mengaku telah menikmati gulai kambing di serambi masjid yang sama sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
"Hari ini menu buka puasanya gule kambing. Jumlahnya 1.500 porsi," jelas Agus mengenai persiapan di hari itu.
Meski tidak mengetahui secara persis awal mula tradisi ini, Agus meyakini kebiasaan itu sudah berjalan sangat lama. Menurut informasi yang ia terima, sajian gulai kambing khusus hari Kamis atau malam Jumat Ramadan dimulai sebagai bentuk gotong royong masyarakat untuk berbagi hidangan istimewa yang pada masa lalu sulit dijangkau semua kalangan.
"Dulu itu saya masih SD sudah duduk di serambi teras masjid sini, dapat menu gulai kambing," kenangnya.
Evolusi Penyajian dan Standar Kualitas
Dari masa ke masa, cara penyajian gulai kambing ikut berubah. Jika dahulu dimasak secara langsung oleh para pengurus dan warga sekitar, kini masjid bekerja sama dengan sejumlah katering yang berniat beramal. Namun, peralihan metode ini tidak serta-merta menurunkan standar. Agus menegaskan bahwa kualitas rasa dan kebersihan tetap menjadi prioritas utama.
"Jadi itu sudah lama sekali, sejak saya kecil itu memang sudah gitu. Jadi tiap kebiasaan, hari Kamis itu biasanya gule kambing," tuturnya mengenai rutinitas yang tak tergantikan.
Ia juga menyebut ada syarat ketat bagi katering pemasok, terutama dalam menghilangkan bau prengus khas daging kambing. Pengalamannya menangani keluhan dari jemaah membuatnya sangat selektif.
"Mungkin ada yang menyajikannya masih pagi, dibungkus plastik, dibuka sore jadi dikembalikan lagi," ujarnya, menggambarkan pentingnya penanganan yang tepat agar hidangan tetap prima saat disantap.
Dukungan Komunitas dan Daya Tarik bagi Jemaah
Minat masyarakat untuk mendukung tradisi ini ternyata cukup besar. Agus mengungkapkan, saat ini ada lima katering berbeda yang secara bergiliran menyokong kebutuhan setiap Kamis. Jika jumlah penyumbang melebihi kapasitas, menu istimewa ini kadang juga dihidangkan pada hari Senin. Di luar hari spesial tersebut, menu takjil harian masjid umumnya lebih bervariasi dengan lauk seperti ayam.
Daya tarik tradisi ini dirasakan langsung oleh jemaah seperti Rifqi Pratama, seorang pekerja yang kerap singgah usai beraktivitas. Meski tidak selalu mengejar jadwal gulai kambing, ia mengaku rutin berkunjung untuk berbuka puasa di Masjid Gedhe Kauman.
"Ini pulang kerja mampir, nanti pulang ke rumah di Baciro," kata Rifqi yang bekerja di kawasan Bugisan, Bantul.
Ia mengakui bahwa informasi mengenai gulai kambing Kamisan memang telah tersebar luas di kalangan masyarakat. Ketenaran tradisi ini telah menjadikannya sebagai salah satu ikon Ramadan di Yogyakarta yang dinantikan banyak orang, baik warga lokal maupun musafir, untuk merasakan kehangatan berbagi di bulan suci.
Artikel Terkait
Jellyfish Entertainment dalam Pembicaraan Perpanjangan Kontrak dengan Kim Se-jeong
Iran Ancam Serang Pangkalan Militer Asing Jika Hadapi Agresi dari AS
FC Barcelona Siapkan Rencana Nutrisi Khusus untuk Puasa Ramadan Lamine Yamal
SIM Keliling Polda Metro Jaya Hadir di Lima Lokasi Jakarta Hari Ini