Pasar Ramadan Baiturrahmah Denpasar Ramai Dikunjungi, Dongkrak Perekonomian UMKM

- Sabtu, 21 Februari 2026 | 06:50 WIB
Pasar Ramadan Baiturrahmah Denpasar Ramai Dikunjungi, Dongkrak Perekonomian UMKM

PARADAPOS.COM - Pasar Ramadan di Masjid Raya Baiturrahmah Denpasar, atau yang dikenal sebagai Kampung Muslim Wanasari, kembali ramai dikunjungi masyarakat. Tidak hanya oleh umat Muslim yang berburu takjil dan menu berbuka, pasar temporer ini juga menarik perhatian wisatawan domestik hingga mancanegara. Geliat ekonomi para pelaku UMKM pun turut terdongkrak, dengan ratusan pedagang memadati area sekitar masjid selama bulan suci.

Destinasi Kuliner yang Menyatukan

Suasana ramai mulai terasa sejak sore hari, terutama selepas jam kerja. Pengunjung berdatangan, tak hanya untuk berbelanja kebutuhan berbuka, tetapi juga untuk merasakan atmosfer unik dan tentu saja, mengabadikan momen untuk konten media sosial. Ketua Koordinator Pasar Ramadan setempat, Marjuki Fathan, mengamati fenomena ini telah berlangsung sejak pasar tersebut viral di platform digital.

"Kalau pengunjung kita beragam umat, tidak kita halangi, malah ada wisatawan asing juga mencari makanan di sini," tuturnya. "Sementara untuk yang Muslim biasanya ramainya jam 5 sore, jam pulang kantor mampir ke sini."

Antusiasme Pedagang Melebihi Kapasitas

Popularitas pasar ini berbanding lurus dengan minat para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berjualan. Antusiasme mereka bahkan melampaui kapasitas lahan yang tersedia di Kampung Muslim Wanasari. Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia harus menata ulang penempatan stan agar dapat menampung 79 usaha yang terdaftar.

"Setiap tahun pesertanya semakin meningkat, tapi kami keterbatasan tempat," jelas Marjuki. "Tahun ini yang terdata 79 usaha, jadi kami bagi di area sekitar masjid sekitar 35 dan sisanya di lahan masjid seberang ritel."

Pasar Ramadan ini beroperasi dari 19 Februari hingga 16 Maret 2026, dan akan ditutup sementara menyambut Hari Raya Nyepi. Dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, transaksi yang terjadi cukup menggembirakan. Rata-rata, setiap pedagang disebutkan mampu meraup pendapatan bersih hingga satu juta rupiah per hari.

Seleksi dan Komitmen Kualitas

Dalam memilih pedagang, panitia lebih mengutamakan warga setempat yang mata pencaharian sehari-harinya bergantung pada usaha dagang. Namun, peluang juga terbuka bagi pedagang dari luar wilayah yang mengajukan diri. Kriteria utamanya bukanlah seleksi ketat, melainkan komitmen untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan.

"Kami tidak terlalu seleksi, yang penting dia mau mengikuti arahan seperti bayar iuran mulai dari Rp35 ribu per hari dan memastikan tidak menjual dagangan yang menggunakan pemanis, pewarna, dan pengawet," ungkap Marjuki. "Ini kami laksanakan demi mensejahterakan UMKM."

Dayatarik Kuliner Khas Ramadan

Selain faktor viral di media sosial, daya tarik utama pasar ini terletak pada kuliner khasnya. Pengunjung tidak hanya datang untuk jajanan takjil biasa, tetapi juga memburu hidangan unik seperti sate susu—olahan berbahan daging sapi yang konon hanya dijual selama Ramadan di lokasi tersebut. Keunikan inilah yang menjadi magnet kuat.

Kadek Yudia, salah satu pengunjung dari kalangan masyarakat lokal non-Muslim, mengaku sengaja datang untuk menikmati kuliner dan suasana. "Tahun lalu juga ke sini. Saya tidak puasa, jadi ini beli sate susu, gorengan, dan jajanan manis buat di rumah saja nanti makan," ucapnya. "Harganya juga tidak terlalu mahal, sekalian rekam-rekam situasi untuk buat konten."

Cerita Kadek merepresentasikan bagaimana Pasar Ramadan Baiturrahmah telah menjelma menjadi lebih dari sekadar tempat berbelanja. Ia telah menjadi ruang pertemuan budaya dan destinasi kuliner yang menawarkan pengalaman autentik, sekaligus menyokong perekonomian riil para pedagang kecil di tengah hiruk-pikuk Denpasar.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar