PARADAPOS.COM - Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, mengungkapkan bahwa puasa Daud telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup dan spiritualnya sejak pertama kali menduduki kursi legislatif. Dalam sebuah diskusi, politikus Partai Golkar itu berbagi kisah tentang makna mendalam di balik ibadah puasa, yang ia jalani sebagai bentuk rasa syukur dan pengingat akan masa-masa penuh kesulitan ekonomi di masa lalu.
Warisan Spiritual dan Semangat Prihatin
Puasa Daud, yang dilaksanakan secara selang-seling sehari puasa dan sehari tidak, merupakan warisan spiritual dari almarhum ayahnya. Bagi Misbakhun, tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan sebuah cara untuk memelihara semangat keprihatinan dalam hidup. Ia hanya menghentikan puasa Daudnya selama bulan Ramadan, saat menjalankan puasa Syawal, dan pada hari-hari Tasyrik.
“Jadi dalam satu tahun itu, saya menghentikan puasa Daud, saat saya Ramadan dan puasa Syawal, dan pada saat hari Tasyrik saja. Warisan almarhum Bapak saya itu,” tuturnya. “Saya ini kan orang susah. Untuk menjaga spirit bagaimana kita tetap prihatin di dalam hidup, semangat yang bisa kita dapatkan itu hanya dari puasa.”
Puasa Ramadan: Mengingat Masa Sulit dan Memupuk Kepekaan
Momen Ramadan memiliki resonansi yang sangat personal bagi Misbakhun. Ia mengenang periode hidup di mana kesulitan ekonomi begitu nyata, bahkan hingga mempengaruhi santap sahur dan buka puasanya. Pengalaman pahit itu justru menjadi fondasi baginya untuk membangun kepekaan dan semangat berbuat baik.
“Saat-saat puasa Ramadan seperti ini, saya ketemu hal-hal yang sangat dalam, dalam hidup saya. Di saat kita dulu seperti apa, kekurangan. Pada saat sahur nggak ada yang apa yang kita pakai untuk sahur. Pada saat kita mau buka, kita tidak tahu apa yang akan kita pakai untuk berbuka puasa,” kenangnya.
“Tapi, itu yang membuat saya selalu bersemangat untuk bisa menjaga kepekaan, kepekaan internal kita, supaya tetap dalam sebuah semangat bahwa puasa itu harus menjadi sebuah kekuatan spiritual kita untuk berbuat lebih baik lagi untuk masyarakat,” sambung Misbakhun.
Menaikkan Level Ibadah sebagai Bentuk Syukur
Disiplin berpuasa telah ditanamkan sejak ia masih kecil, dimulai dengan puasa Senin-Kamis saat duduk di bangku sekolah dasar. Namun, ketika terpilih menjadi anggota DPR, Misbakhun merasa perlu ‘meningkatkan level’ ibadahnya sebagai wujud syukur atas amanah dan kenikmatan yang diterimanya. Keputusan itulah yang membuatnya beralih dan konsisten menjalani puasa Daud hingga saat ini.
“Saya dari kecil diajarkan oleh almarhum orang tua saya untuk selalu berpuasa. Saya kelas 3 SD itu sudah belajar puasa Senin-Kamis. Saya berhenti puasa Senin-Kamis itu ketika saya menjadi anggota DPR,” jelasnya. “Saya ini merasa diberikan derajat kenikmatan dengan kedudukan dan sebagainya, maka saya menaikkan level puasa saya menjadi puasa Daud. Saya menyadari itu, maka saya puasa Daud.”
Puasa Sebagai Kontrol Diri yang Tak Terputus
Bagi Misbakhun, puasa berfungsi sebagai ‘rem’ dan kunci pengendalian diri. Komitmennya terhadap puasa Daud telah diuji dalam berbagai kesibukan dan perjalanan dinasnya, bahkan hingga melintasi lima benua. Ia menyebut ibadah ini belum pernah terputus, sebuah konsistensi yang ia jaga dengan sungguh-sungguh.
“Ya saya harus makin membuat puasa itu kunci, rem saya, untuk berbuat lebih baik lagi, untuk menjadi menahan diri dengan sebuah kontrol diri yang baik, maka saya puasa daud,” ungkapnya. “Ya saya kalau ditanya kapan mulai puasa Daud? Ya sejak saya jadi anggota DPR. Ya sejak itu. Dan Alhamdulillah pengalaman saya puasa Daud itu, saya belum pernah terputus. Saya sudah melintasi lima benua, puasa di semua itu.”
Artikel Terkait
Kementan Soroti Kontribusi Rp280 Triliun Tembakau di Tengah Ancaman Regulasi
OUE REIT Pertimbangkan Penjualan Gedung Ikonik One Raffles Place di Singapura
Paramount Land Pacu Penjualan Rp5,5 Triliun dengan Andalkan Akses Tol Baru
Menteri Sosial Tegaskan Sekolah Rakyat Bentuk Generasi Tangguh