PARADAPOS.COM - Seorang pejabat tinggi Rusia, Dmitry Medvedev, memperingatkan bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump berpotensi memicu Perang Dunia III. Peringatan keras ini disampaikan menyusul serangkaian aksi militer AS dan Israel terhadap Iran, yang diklaim telah menewaskan pemimpin tertinggi negara tersebut, serta penculikan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Medvedev, sekutu dekat Vladimir Putin, menilai langkah-langkah Trump sebagai "gila" dan berbahaya bagi stabilitas global.
Peringatan dari Moskow: Jalur Menuju Konflik Global
Dmitry Medvedev, yang pernah menjabat sebagai Presiden Rusia dan kini menduduki posisi penting di pemerintahan, tidak ragu menyampaikan kritik pedasnya. Dalam wawancara dengan kantor berita TASS, ia secara gamblang menyatakan bahwa meski perang dunia ketiga secara formal belum dimulai, arah kebijakan Washington saat ini dianggapnya sebagai pemicu yang nyata. Kekhawatiran ini muncul dari eskalasi militer yang tampaknya semakin meluas.
"Secara formal, tidak, tetapi jika Trump melanjutkan tindakan gilanya untuk melakukan perubahan rezim kriminal, itu pasti akan dimulai," tegas Medvedev. "Dan peristiwa apa pun bisa menjadi pemicunya. Peristiwa apa pun."
Dampak Serangan terhadap Iran dan Konsekuensinya
Medvedev secara khusus menyoroti serangan AS dan Israel yang menargetkan Iran. Ia menggambarkan tindakan tersebut sebagai agresi bersenjata yang direncanakan tanpa provokasi terhadap negara berdaulat. Menurutnya, serangan yang mengakibatkan gugurnya Ayatollah ini bukan hanya aksi militer, tetapi juga sebuah peristiwa yang memiliki dampak geopolitik dan spiritual yang sangat dalam.
"Yang lebih penting lagi, almarhum Ayatollah adalah bapak spiritual dari hampir 300 juta penganut Syiah. Dan sekarang beliau juga seorang martir," ungkapnya. "Anda bisa membayangkan sisanya. Dan sekarang tidak diragukan lagi bahwa Iran akan mengejar pembuatan senjata nuklir dengan energi yang berlipat ganda."
Ia memperingatkan bahwa eskalasi di Timur Tengah berisiko memicu bencana kemanusiaan dan ekonomi, bahkan potensi bencana radiologis, yang dapat menjerumuskan kawasan itu ke dalam spiral kekerasan yang tak terkendali.
Respon terhadap Ancaman dan Jaminan Rusia
Ketika ditanya mengenai kemungkinan AS mencoba menyingkirkan Presiden Vladimir Putin seperti yang terjadi pada pemimpin Iran, Medvedev merespons dengan nada sinis sekaligus peringatan yang sangat tegas. Ia menyiratkan bahwa Moskow memiliki cara tersendiri untuk menjawab ancaman semacam itu.
"Tidak ada obat mujarab untuk tindakan orang-orang idiot dan omong kosong belaka, dan tidak akan pernah ada," ujarnya. "Hanya ada satu jaminan: AS takut pada Rusia dan tahu harga konflik nuklir. Jika itu terjadi, Hiroshima dan Nagasaki akan tampak seperti permainan anak-anak di taman bermain."
Pernyataan ini menegaskan posisi Rusia yang melihat dirinya sebagai kekuatan sejajar yang mampu memberikan deterensi mutlak. Medvedev juga mengkritik AS dan sekutunya yang terlibat dalam perang dengan Iran, dengan metafora yang kasar, menyebut mereka sebagai 'babi' yang 'tidak mau melepaskan palung makanannya'.
Analisis dari kancah geopolitik menunjukkan bahwa peringatan ini disampaikan dalam konteks aliansi strategis Rusia dengan Iran, yang telah memasok drone untuk konflik di Ukraina. Peringatan dari Moskow ini sekaligus menggarisbawahi kompleksitas dan bahaya laten dari situasi global saat ini, di mana satu miskalkulasi dapat berakibat fatal bagi perdamaian dunia.
Artikel Terkait
42.000 Penerima Bantuan Iuran JKN Dipastikan Kembali Aktif Setelah Pemutakhiran Data
Hodak Pilih Diam, Tak Bahas Wasit Usai Persib Imbangi Persebaya
Polda Sumut Sita Dua Ekskavator dalam Operasi Tambang Emas Ilegal di Mandailing Natal
Pelatih Persebaya Apresiasi Mental Juang Pemain Usai Tahan Imbang Persib