Kedubes Iran di Beijing Tolak Sumbangan Uang dari Warga Tiongkok

- Jumat, 06 Maret 2026 | 12:50 WIB
Kedubes Iran di Beijing Tolak Sumbangan Uang dari Warga Tiongkok

PARADAPOS.COM - Kedutaan Besar Iran di Beijing secara resmi menolak sumbangan uang dari warga Tiongkok yang ingin membantu, meski mengapresiasi tinggi gelombang solidaritas yang muncul. Penolakan ini disampaikan melalui pengumuman di platform media sosial Douyin, menyusul banyaknya warga yang mendatangi atau menelepon kedutaan dengan niat memberikan bantuan keuangan. Sementara itu, pemerintah China secara terbuka mendukung Iran dalam menghadapi apa yang disebutnya sebagai agresi dari Israel dan Amerika Serikat, dengan Menlu Wang Yi menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.

Dukungan Masyarakat yang Membuat Haru dan Bingung

Gelombang simpati dari masyarakat Tiongkok terhadap Iran ternyata memunculkan situasi yang tak terduga bagi perwakilan diplomatiknya di Beijing. Banyak warga, yang tergerak oleh pemberitaan mengenai konflik, secara spontan menawarkan bantuan finansial langsung kepada Kedubes Iran. Respons hangat nan spontan ini, meski sangat dihargai, justru menempatkan kedutaan pada posisi yang sedikit dilematis. Alih-alih mengumpulkan dana, mereka justru perlu menyampaikan bahwa bentuk dukungan yang paling dibutuhkan saat ini bukanlah uang, melainkan solidaritas politik internasional.

Untuk memberikan kejelasan sekaligus rasa terima kasih, kedutaan pun mengeluarkan pernyataan resmi. Pengumuman yang beredar di Douyin itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:

"Kami berterima kasih kepada rakyat Tiongkok atas dukungan mereka yang tulus; bantuan keuangan tidak akan diterima saat ini," bunyi pengumuman tersebut.

Pernyataan itu dilanjutkan dengan ungkapan penghargaan yang lebih mendalam: "Kedutaan Besar Iran di Tiongkok menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada rakyat Tiongkok yang beradab dan adil. Semangat kemanusiaan Anda, pilihan Anda untuk menegakkan keadilan, dan dukungan Anda kepada rakyat Iran dalam mengutuk keras serangan brutal Amerika Serikat dan Israel terhadap anak-anak dan warga sipil Iran adalah tindakan kebaikan yang tidak akan pernah kami lupakan."

Kedutaan kemudian menegaskan keputusannya dengan pertimbangan yang matang. "Dalam hal ini, Kedutaan Besar dengan sungguh-sungguh memberitahukan kepada seluruh lapisan masyarakat bahwa, berdasarkan penilaian yang cermat terhadap kapasitas nasional saat ini, Republik Islam Iran saat ini tidak berencana untuk menerima bantuan keuangan dari organisasi atau individu Tiongkok yang bersahabat," jelasnya. Mereka juga menambahkan, "Jika situasinya berubah di masa mendatang dan hal itu menjadi perlu, kami akan memberitahukan Anda secara terpisah."

Dukungan Resmi Pemerintah China

Di tingkat pemerintahan, dukungan untuk Iran disampaikan dengan nada yang lebih formal dan politis. Partai Komunis China dan pemerintah secara terbuka menyatakan sikap mereka, mendukung hak Iran untuk mempertahankan kedaulatan dan membela diri. Posisi ini bukan sekadar pernyataan biasa, melainkan disampaikan dalam forum diplomasi tingkat tinggi, menunjukkan keseriusan Beijing dalam menyikapi dinamika konflik di kawasan.

Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menjadi penyampai langsung pesan dukungan ini. Dalam pembicaraan dengan rekannya dari Iran, Wang Yi secara tegas menggarisbawahi bahwa China tidak akan berdiam diri melihat mitra strategisnya menghadapi tekanan militer. Lebih dari itu, ia juga menyampaikan kritik terbuka terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab atas eskalasi.

Wang Yi menuduh Amerika Serikat dan Israel telah melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. "Serangan terhadap Iran adalah pelanggaran terhadap Piagam PBB dan hukum internasional," ujarnya. Dalam pernyataannya, ia mendesak agar konflik segera diakhiri. "Kami mendesak pihak-pihak terkait untuk segera menghentikan permusuhan dan kembali ke jalur diplomasi," tutupnya menegaskan.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar