Iran Tawarkan Akses Selat Hormuz bagi Negara yang Usir Duta Besar AS dan Israel

- Selasa, 10 Maret 2026 | 20:25 WIB
Iran Tawarkan Akses Selat Hormuz bagi Negara yang Usir Duta Besar AS dan Israel

PARADAPOS.COM - Iran menutup akses pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak global, menyusul serangan udara Amerika Serikat dan Israel akhir Februari lalu. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kini mengeluarkan tawaran kontroversial: negara-negara yang mengusir duta besar AS dan Israel akan mendapatkan izin bebas melintasi selat tersebut. Langkah ini memperparah ketegangan di kawasan yang sudah memanas, mendorong harga minyak melambung di atas US$ 100 per barel dan mengganggu pasokan energi dunia.

Kebijakan Iran dan Syarat Khusus untuk Pelayaran

Pengumuman resmi dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) disiarkan oleh televisi pemerintah IRIB pada Senin (9/3) malam. Dalam pernyataan yang dilaporkan sejumlah media internasional itu, Iran secara tegas mengaitkan akses pelayaran dengan sikap politik negara-negara lain terhadap Washington dan Tel Aviv.

IRGC menyatakan, "Setiap negara Arab atau negara Eropa yang mengusir Duta Besar Israel dan Amerika dari wilayahnya, akan memiliki kebebasan dan wewenang penuh untuk melewati Selat Hormuz mulai besok."

Tawaran tersebut muncul sebagai bentuk balasan setelah serangan skala besar AS dan Israel pada 28 Februari, yang direspons Iran dengan gelombang serangan rudal dan drone ke target-target di Israel serta negara Teluk yang menampung aset militer AS.

Dampak Mencekam bagi Lalu Lintas Global

Penutupan Selat Hormuz membawa konsekuensi langsung dan signifikan bagi perekonomian global. Selat sempit itu merupakan arteri utama perdagangan energi, yang biasanya mengalirkan sekitar 20% minyak dunia dan volume ekspor gas alam cair global. Namun, situasi berubah drastis pasca eskalasi konflik.

Data dari perusahaan analisis Kpler melalui platform MarineTraffic menunjukkan gambaran suram: lalu lintas kapal tanker di selat itu anjlok hingga 90% hanya dalam kurun satu minggu. Aktivitas pelabuhan dan pelayaran yang biasanya ramai kini hampir sepenuhnya terhenti, menciptakan kemacetan di salah satu jalur laut paling strategis di planet ini.

Guncangan di Pasar Energi dan Ketegangan Regional

Rantai efek dari krisis ini langsung terasa di pasar komoditas. Harga minyak mentah telah melonjak melewati angka psikologis US$ 100 per barel. Lonjakan ini tidak hanya dipicu oleh penutupan selat, tetapi juga oleh perlambatan produksi minyak di berbagai wilayah Timur Tengah yang ikut terdampak ketegangan.

Situasi ini menempatkan banyak negara, khususnya yang bergantung pada impor energi dari kawasan Teluk, dalam posisi sulit. Mereka dihadapkan pada pilihan kompleks antara kepentingan energi, tekanan politik, dan stabilitas keamanan regional. Eskalasi lebih lanjut berpotensi memperdalam krisis ekonomi global, di tengah upaya diplomatik internasional yang berusaha meredakan situasi.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar