Ketua Pernefri Serukan Pemeriksaan Urine Rutin untuk Deteksi Dini Radang Ginjal di Usia Muda

- Rabu, 11 Maret 2026 | 21:25 WIB
Ketua Pernefri Serukan Pemeriksaan Urine Rutin untuk Deteksi Dini Radang Ginjal di Usia Muda

PARADAPOS.COM - Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB Pernefri), Dr. dr. Pringgodigdo Nugroho, Sp.PD-KGH, menyerukan pentingnya pemeriksaan urine rutin bagi generasi muda sebagai langkah kunci deteksi dini peradangan ginjal. Menurutnya, penyakit glomerulonefritis sering muncul tanpa gejala di usia produktif, sehingga pemeriksaan sederhana ini menjadi benteng pertahanan pertama yang vital.

Bahaya Senyap Radang Ginjal di Usia Muda

Pringgodigdo mengungkapkan keprihatinannya bahwa kasus gagal ginjal pada usia muda kerap berakar dari peradangan ginjal yang terlambat terdeteksi. Masalahnya, kondisi ini sering kali berkembang secara diam-diam, tanpa memberikan sinyal nyeri atau ketidaknyamanan yang jelas. Akibatnya, banyak yang baru menyadari setelah kerusakan mencapai tahap lanjut.

“Yang di muda-muda udah gagal ginjal kebanyakan itu karena penyakit ini peradangan ginjal, karena enggak pernah periksa urine,” tegasnya, mengutip keterangan yang dirilis Antara, Kamis, 12 Maret 2026. “Bisa diketahuinya hanya dengan pemeriksaan, karena enggak ada gejala.”

Urine Berbusa dan Berwarna, Sinyal yang Sering Diabaikan

Dokter spesialis penyakit dalam itu menjelaskan, pemeriksaan urine dapat mengungkap adanya sel darah merah atau protein albumin yang seharusnya tidak ada. Dalam praktik klinis, salah satu tanda fisik yang mudah terlihat namun sering diabaikan adalah urine yang berbusa atau berubah warna.

“Kalau udah berbusa, berwarna, itu udah tinggi berarti tuh (kadar kebocorannya),” ungkap Pringgodigdo. “Biasanya berwarna kemerahan itu karena ada darah. Darah bisa dari ginjalnya atau dari salurannya. Kalau dari ginjalnya tadi karena peradangannya.”

Pencegahan: Gaya Hidup dan Skrining Berkala

Di luar deteksi dini, Pringgodigdo menekankan pilar pencegahan lain yang tak kalah penting: penerapan gaya hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan rutin. Ia menganjurkan skrining setidaknya setahun sekali, bahkan bagi mereka yang merasa sehat-sehat saja.

“Kalau enggak ada gejala ya paling enggak setahun sekali gitu diperiksa,” imbuhnya.

Waspadai Pola Makan dan Gaya Hidup Tidak Aktif

Peringatan khusus juga ditujukan pada pola makan generasi muda. Konsumsi berlebihan makanan manis tinggi kalori dan makanan instan yang kaya garam dinilai sebagai ancaman serius. Keduanya dapat memicu obesitas, diabetes, dan hipertensi—faktor risiko utama yang merusak ginjal secara perlahan.

“Itu harus dihindari. Misalnya mengonsumsi yang manis-manis kan kalorinya tinggi. Nanti secara tidak langsung bisa melalui diabetes juga bisa,” sebutnya.

Tak hanya pola makan, gaya hidup sedentari atau kurang gerak turut memperburuk risiko. Pringgodigdo mengamati kebiasaan masyarakat yang memilih menggunakan kendaraan untuk jarak dekat. “Sekarang ke mana-mana yang deket harus naik motor padahal kan bisa jalan kaki. Jalan itu kan membantu membakar kalori,” ujarnya, menegaskan bahwa aktivitas fisik sederhana pun memiliki dampak protektif yang signifikan bagi kesehatan ginjal jangka panjang.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar