PARADAPOS.COM - Rupiah membuka perdagangan Senin (16/3/2026) dengan catatan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan ini terjadi seiring dengan tekanan yang dialami oleh mata uang AS di pasar global. Berdasarkan data dari Bloomberg, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp16.977 per USD, menguat 0,12% dari penutupan perdagangan sebelumnya.
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)Proyeksi Fluktuatif di Tengah Ketegangan Global
Meski dibuka dengan sentimen positif, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan rupiah sepanjang hari ini akan fluktuatif dengan kecenderungan untuk melemah. Ia memperkirakan rentang perdagangan mata uang nasional akan berada di antara level Rp16.990 hingga Rp17.050 per dolar AS menjelang libur panjang.
Menurut Assuaibi, tekanan utama terhadap rupiah berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia. Situasi ini memicu ketidakpastian yang tinggi di pasar keuangan internasional.
"Ini mengindikasikan bahwa Iran masih sanggup untuk melakukan perlawanan," ungkapnya, merujuk pada dinamika konflik yang sedang berlangsung.
Faktor Eksternal: Suku Bunga The Fed dan Harga Komoditas
Selain faktor geopolitik, pasar juga memusatkan perhatian pada agenda kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) AS. Pertemuan bank sentral AS yang dijadwalkan pada minggu depan dinilai krusial dalam menentukan arah aliran modal global.
Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak mentah yang telah menembus level US$100 per barel berpotensi memicu tekanan inflasi baru. Kondisi ini, kata dia, dapat memengaruhi keputusan The Fed.
Ia memperkirakan The Fed akan mempertahankan atau bahkan berpotensi menaikkan suku bunga acuan, sebagai respons terhadap kondisi tersebut. Kebijakan moneter AS yang ketat secara historis cenderung memperkuat dolar dan memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dampak terhadap Kondisi Fiskal Dalam Negeri
Kenaikan harga minyak dunia juga membawa konsekuensi langsung terhadap perekonomian domestik. Assuaibi menilai bahwa harga minyak yang bertahan di atas level US$92 per barel akan berdampak pada defisit anggaran pemerintah.
Dari sisi internal, defisit anggaran kemungkinan besar akan terus terjadi. Bahkan, beberapa pengamat menekankan pentingnya menjaga defisit anggaran pada batas aman di kisaran tiga persen untuk menjaga stabilitas ekonomi makro.
Dengan demikian, pergerakan rupiah hari ini tidak hanya dipantau dari fluktuasi hariannya, tetapi juga dalam kerangka dinamika kompleks antara risiko geopolitik, kebijakan bank sentral global, dan ketahanan fiskal dalam negeri.
Artikel Terkait
PAN Siap Dukung Wacana Pemotongan Gaji Anggota DPR
BRImo Pimpin Pengguna Aktif Mobile Banking, Transaksi Digital Tembus Ribuan Triliun di 2025
Pelindo Sediakan 4.030 Kursi Bus Gratis untuk Mudik Lebaran 2026
KontraS: Andrie Yunus Alami Luka Bakar Kimia 20% dan Ancaman Kebutaan Pascasidang Air Keras